“menemui” lalu “menemukan”




Hmm…
bagiku tak masalah jika pertemuan yang lalu itu dianggap sebagai sebuah ‘titik temu’, 
karena sebenarnya memang demikian.

Kesampingkan soal “titik”, 
“titik” itu hanya sebuah “tanda”, atau lebih tepatnya “momen” pertemuan itu sendiri.  (setidaknya begitulah bagiku…)

Dua garis –yang tadinya mungkin berjalan dari arah yang berlawanan- akan lebih nyata perpotongannya jika tepat pada satu titik. 
Dan titik membuat perpotongannya menjadi semakin jelas, bukan? 
Titik itu kelak menjadi titik seimbang, 
ibarat titik equilibrium dalam sebuah grafik supply dan demand, hahaha... 

Dan di sanalah keseimbangan itu kita temukan. 

Setelah merasa perlu untuk saling menemui, maka sesuatu setelah pertemuan itu kita temukan. 
Mungkin ini bisa kusebut sebagai “refleksi diri”
Cerminmu adalah aku, cerminku adalah kamu. 

Dan dari titik dimana kita berpijak saat itu, aku semakin sadar bahwa aku tak sendirian, setidaknya karena aku merasa semakin mencintai apa yang ada dalam diriku,
Berusaha untuk mengurai makna dari setiap ujaran, mimik dan bahasa yang mungkin tak lagi sanggup dibahasakan dalam kata-kata. 

Lebih dari itu. Semuanya berawal dari sebuah keinginan untuk bertemu, lalu ternyata kita telah saling ‘menemukan’.

setelah titik temu itu...



“Seharusnya Batak yang sendirian itu bernyanyi”, menurutku demikian.

Tapi ingat ‘kan, aku pernah bilang “Aku Batak karbitan lho”,  

dan saat itu dahimu mengernyit tanda kebingungan.

Kocak…

Bertemu dan berkelakar dengan sosok yang baru setahun ini kukenal, 
tapi rasanya seperti bertemu teman lama saja
Aneh…
...

Dari batu besar yang sedikit mengganggu rasa nyamanmu kita beranjak bergegas mencari tempat yang lebih nyaman untuk bercerita

Meskipun pada dasarnya bagiku sama saja, 
rasa nyaman itu sebenarnya muncul ketika aku mulai merasa mampu menuangkan isi kepala dalam rupa bahasa dan kata-kata- yang aku tahu persis bahwa sebagian besar masih terasa ngasal di telingamu- tanpa merasa ada kejanggalan di sana. 

Bagiku sebuah apresiasi itu penting, 
dan itu kudapatkan dalam perjumpaan ini
Kujelaskan bahwa perihal perjumpaan ini ibarat menemukan –ah, semoga ini tak berlebihan- oase di padang gurun
Karena sudah kuceritakan bahwa rasanya sulit bagiku menemukan seseorang yang “sama uniknya”, ya, demikianlah kira-kira. 

....
Ingat?
 
Kita bicara tentang ini dan itu. 
Mulai dari “mejeuhna” sampai kepada “kabita”. 

Pertemuan dua budaya yang berbeda di sana
Saat seorang Batak ingin mengenal apa itu Sunda
“Kabita?”  tanyaku
“Iya, K-a-b-i-t-a”, jawabmu sambil mengeja
“Oh.. Hahaha, lucu ya, ‘kabita’” 
Aku mengulanginya sambil bernyanyi tak jelas, sekedar bertingkah konyol tak tentu

Aku tahu bahwa bagimu tak ada yang lucu di situ,
tapi bagiku, kata-kata itu sedikit "menggelitik" telinga Sumatera-ku,
bahasa yang halus sekali,
beda dengan bahasa yang dulu biasa kudengar

...

Dan hari itu pun berlalu…

Terima kasih, teman.

Titik temu yang terjadi hari itu juga sebagai peringatan bagiku bahwa di sini, aku tak merasa asing lagi, setidaknya setelah perjumpaan itu.
Kesediaanmu mendengar, 
kesediaanmu berbagi, 
kesediaanmu meluangkan waktu dan ruang bagiku adalah penghargaan tertinggi dari seorang teman, yang kelak akan menjadi sahabat pula. 

Aku menghargai semuanya,
yang entah kenapa pengalaman itu bagiku seperti mendapat tambahan rasa asin dalam semangkuk sup ayam yang tadinya hambar. 
Begitulah kira-kira.


……the end (?)


Kepada aa David Setiadi, yang dengan baik hati meluangkan waktu dan ruang buat sahabatnya ini.
Salam sehat selalu. (^_^)

Penerjemah Sepi




Penerjemah Sepi

Menyaksikan satu per satu kenangan itu menguap di udara
Mungkin tak kasat mata, tapi setidaknya akan terdengar di telinga
atau terasa di indera peraba...
Mendadak aku sadar, di sana tak lagi ada suara...
Aku menjadi sendiri, lagi...


Dengan sepi...
berteman dengan sepi, bagiku sudah biasa
tapi kini semua tak lagi menjadi biasa, ketika kau menawarkan selaksa rasa
kini semua tak lagi menjadi biasa, ketika kau memperjualbelikan kelakar yang sialnya kuanggap istimewa
….
Aku menjadi pengamat rinduku sendiri
Berangkat bersama pagi, tenggelam bersama malam
Menunggu datangnya pagi untuk meluluhlantakkan sepi
Entah kenapa rasanya akhir-akhir ini sepi semakin menjadi-jadi
Aku tak lagi bisa mengerti, mengapa ia sepertinya betah berlama-lama bermain di sini,
Di hati
....
Aku menjadi korban perasaanku sendiri
Membunuh waktu dalam hening tak menentu
Dan sepintas kenangan dari masa lalu datang mengganggu
Mencoba mengacaukan lagi pikiran si dungu
Yang entah kenapa selalu dengan bodohnya termangu karena lagu lama yang mendayu
Seolah terus merasa terbujuk rayu
Dan dengan tenangnya bersembunyi dibalik sepi itu
Sampai dia sadari bahwa kini hanya dia yang tersisa, dia yang tak lagi bisa mengurai makna
….
Sepi yang dulunya bersahabat denganku
Kini ia berbalik menusukku
Dan mengambil peran seperti seorang musuh yang siap bergerilya

Aku tahu betul bahwa…

Aku sama sekali tak punya kompas untuk mengajakku
Merujuk navigasi yang membawaku pada destinasi
Aku sama sekali tak punya kitab untuk membantu
Merujuk tanda-tanda bahasa yang membawaku pada makna
Aku sama sekali tak punya itu semua…

Dan kini, di sini, dalam keheningan yang terasa seperti rangkuman segenap tanya
Kembali aku menjadi
Penerjemah sepiku sendiri


Jt.nangor
Wed-070312





tuliskan judulnya...



aku ingin bercerita, tentang apa saja...
siapa yang bersedia menyendengkan telinganya?
beri aku waktu
beri aku ruang
aku ingin bercerita, sudikah mendengarnya?

aku manusia yg serba salah
ibarat burung gereja yang tua renta
mengumpulkan sisa-sisa semangat dalam hidupnya
untuk setidaknya menjalani satu tahun lagi saja...

ya, satu tahun lagi saja...!



teman, bagiku seperti harta..
tapi entah kenapa, semakin aku menyayanginya, semakin dia tak menyayangi aku
kenapa...

aku mungkin terlalu menjaganya sepenuh hatiku
aku mungkin telah menggenggamnya terlalu erat sampai aku tak sadar
bahwa aku telah menyakitinya...

tiap hari aku berkubang dengan aksara dan kata
tiap hari kulumuri kaki tangan muka mata dan telinga dengan bahasa...
tapi aku sendiri tak mampu berbahasa...
aku bisu!


#efek teh dengan rasa yang amburadul di penghujung hari#




Ingat? 
Dulu aku pernah bilang padamu...

Aku si gagu
Yang tadinya membisu
Kini mencoba peruntunganku
Bicara, meski mungkin tak didengar
Tapi aku si gagu
Yang mencoba peruntunganku
Dengan bahasa sebagai perisaiku

Aku ini tak banyak bicara, tadinya
Tapi kadang aku ingin bicara
Bahasa sebagai alatnya
Aku ini bunuh diri, rasaku…
Aku si gagu
Yang mencoba peruntunganku
Dengan bahasa sebagai baju jirahku

Aku ini banyak mendengar
Tapi kadang aku ingin didengar
Meski seolah terlihat gusar
Tapi sesekali aku ingin didengar

Aku ini kenapa? Kataku…
Aku merasa sangat setengah-setengah hari ini….
Apa sih mauku? tanyaku…

Aah, aku ini tua di umur saja,
Aku tumbuh besar dan “dewasa”
Tapi dalam soal memilih aku masih persis seperti anak kecil
Yang selalu dan akan selalu dibingungkan
Hanya karena perkara sepele:
Kebingungan memilih lolipop warna apa yang akan dibeli dengan uang lima ratus perak..!!
Memalukan!!!


-efek secangkir teh dengan rasa yang amburadul di penghujung hari ini-
12.11.11

#selaraskanlah semuanya...#




Aku terpukul dengan sebuah kalimat yang berkata:
“Jangan lewatkan seharipun untuk menulis tentang pengalamanmu di hari itu, karena waktu tak akan pernah kembali”

Jadi, Aku menulis…karena aku takut aku akan kehilangan hari ini...

Malam ini, 26 Oktober 2011, di jam yang nyaris sama dengan malam-malam kemarin… aku merasa benar-benar kehilangan semangat untuk berbuat, apapun, termasuk tugas dan tugas dan tugas, revisi dan revisi dan revisi, apalagi soal yang satu ini: menenggak sebutir dua butir bola-bola kimia -yang aku tak tau apa kandungan didalamnya- berharap segara dapat sebuah kesembuhan, tapi nonsens!
Aku harus bersyukur…. (semua orang bilang begitu),
Jangan selalu memandang ke atas, sesekali lihatlah ke bawah ke arah orang-orang yang tidak seberuntung kamu…
(semua orang juga bilang begitu)

Yah… aku (semestinya) memang harus bersyukur…

Bersyukur, ketika udara dingin menyergap tubuhku dan seketika itu juga aku harus mendehem dan terbatuk karena rongga sinus yang dihuni oleh bakteri… Mereka bilang, alergi!

Bersyukur, ketika saraf di kepala menegang dan membuat dahi berkerut menahankan sakit, memikirkan dua atau tiga atau lebih masalah yang masih belum menemukan solusinya sendiri… Mereka bilang, migrain!

Bersyukur, ketika lambung serta merta mengeluarkan asam yang keterlaluan jumlahnya, membuat perasaan jadi tak keruan, ingin muntah, ingin makan, lalu muntah lagi, lalu kehilangan selera dan begitu seterusnya… saat berpikir, dari kepala, sang otak mungkin turut mengirimkan isyarat pada sang lambung untuk membantu berpikir? Bukankah lambung tempat bermuaranya makanan yang aku makan untuk diolah? Kenapa seolah-olah lambung ikut berpikir?
Perih… mual… ingin muntah…
Mereka bilang, maag akut!

Bersyukur, ketika aku harus merasa asing ditengah ragaku sendiri… merasa ‘aneh’ atau kusebut saja merasa “beda” dengan diriku sendiri…
Baik…
Mereka bilang, (aku tak mendengar mereka bilang apa-apa soal yang satu ini…)

Demikianlah…
Sungguh benarlah aku harus berjuang untuk memaknai hidup yang seperti ini dengan rasa syukur yang porsinya lebih banyak…
Harus…
Harus…
Tapi Tuhan, bolehkah aku meminta setidaknya sedikit saja kekuatan untuk bisa menjalani hidup ini, lebih dari apa yang kubayangkan, aku ingin hidupku menjadi bermakna, bukan terbatas karena raga, tapi aku tak terbatas karena aku punya hati jiwa dan logika… selaraskanlah semuanya ya Tuhan…
-fin-

Perjalanan kembali menuju nurani: masih adakah?




Ada....

***
Masih cukup fresh dalam ingatanku, masa-masa akhir SMA, masa dimana aku dan kawan-kawan diharuskan dan diwajibkan untuk melihat dunia dari sisi yang berbeda, dari sisi yang terendah dari yang rendah. Menyelami hidup kaum yang terpinggirkan, kaum yang terabaikan, kaum yang katanya ”marginal”.

Oleh seorang guru, bisa aku sebut inisial namanya? Sebuah apresiasi yang hebat untuk Sang Guru, Bapak A.P.Tambunan, yang notabene adalah guru Pendidikan Agama di sekolahku dulu di Perguruan Kristen Immanuel Medan, kami diajak untuk mulai membuka wawasan tentang dunia diluar lingkungan kami sehari-hari. Tak heran, tak sedikit anak-anak murid yang menggerutu karena tuntutan tugas akhir itu.

Celetukan ”Buat apa tugas yang kayak gitu?” atau sekedar teriakan penolakan semacam ”huuuuuu...” banyak kudengar, (termasuk aku juga yang merasa tugas akhir ini agak ekstrim, apalagi harus turun langsung ke lokasi..  ”alamak, gimana ini nanti”, pikirku dalam hati).

Singkat cerita, waktu itu kami diberi kesempatan dan waktu untuk memilih lokasi yang akan kami kunjungi, terserah, entah lokasi itu di daerah pinggiran rel Kereta Api, atau bantaran kali... dan yang anehnya, aku dan kawan-kawan (seingatku waktu itu aku bersama 3 orang temanku yg lain dari kelas yang sama -III IPS 1-, Dina, Kd n Jessy) memilih lokasi yang cukup unik, dan aku rasa kami cukup nekad memilih lokasi itu. Kami memilih TPA sebagai lokasi studi lapangan kami... hahahaa... (Oh My God, ga pernah kebayang buat ngelakuin hal-hal diluar standar anak SMA kayak gini, hiiiiy!).

TPA Namu Bintang, -Tempat Pembuangan Akhir- Namu Bintang, kami memilih untuk studi lapangan kesana maksud hati memang untuk mendapatkan lokasi yang cukup berbeda dari kawan-kawan yang lain.

Dengan pikiran yang masih cetek dan belom bisa membayangkan apa-apa tentang kondisi disana... hanya bermodalkan pena, buku tulis, kamera (dengan resolusi ala kadarnya, hehehe), berkendarakan angkot dengan masih mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan sneakers, kami mantapkan kaki dan hati untuk beranjak dari Slamet Riyadi menuju pinggiran kota Medan itu. Prinsipnya ”what will be, will it be-lah!”, hehe...
***

Yup! We’re here... sekira 25 menitan dari sekolah kami tiba di lokasi, tepatnya di simpang jalan menuju lokasi, as you know yang namanya TPA ngga mungkin letaknya di pinggir jalan raya ’kan? Jelas saja kami harus jalan setidaknya 10 menitan untuk masuk ke area TPA yang sebenarnya, huhuhuhahaha...

Sniff..sniff... Ehem! Aroma yang tidak asing lagi mulai tercium, aroma yang timbul tenggelam hinggap di indera penciuman kami itu tak lain tak bukan asalnya adalah BAU SAMPAH.
Yuk ah, keep goin’ on... kita udah milih lokasi ini, jadi harus tetap pegang prinsip tuntaskan dan selesaikan apa yang udah dipilih! Siiip...

Makin dekat..makin dekat... Adaaaw!!! Makin nusuk nih baunya.... (sambil jalan, telapak tangan udah disekapkan didepan hidung buat menghalau udara berbau busuk itu masuk...!)

Kami sampai di lokasi TPA Namu Bintang. Hal pertama yang dikerjakan adalah... lapor ke pos penjaga untuk minta ijin (kalo ga salah sih waktu itu juga pake surat pengantar studi lapangan dari sekolah...), sesudah ijin dikantongi, langsung capcus masuk menuju ke LOKASI yang SEBENARNYA.

And....then... TARRRRAAA!!!!! Yeaaah, here we are!!!

Pikiran di kepala langsung gonjang ganjing… semula yang kami kira sampah di TPA itu modelnya cuma kayak pembuangan sampah di ujung jalan rumah, ya, sampah se-RT/ RW yang jumlahnya ngga begitu menggila, sekejap bagi kami ini semua hampir berubah jadi kayak malapetaka.
Kenapa???

Ya jelas saja, sampah di TPA itu tingginya sekira 5 meteran, dan baru kali ini kami lihat dengan mata dan kepala kami sendiri  ternyata ada ya gundukan sampah tingginya hampir menyamai tinggi lantai dua sekolah kami, ya itu tadi, 5 sampe 6 meteran… Gila!!!

Dengan mata membelalak dan mulut menganga (entah karena heran, takjub, ngeri atau apa....) kami menahan langkah kaki sesaat di jalan setapak  untuk masuk menuju lautan sampah itu.

Ekh... nyali menciut... merasa sanggup atau ngga buat lanjutin tugas ini...
Tapi syukurlah, dengan kekuatan bulan dan kekompakan tim dan kebulatan tekad kami berempat tetap maju mundur pantang terus, ehm... maju terus pantang mundur maksudnya... (+_+)a


***
Clak! Clak! Clak!
Bunyi langkah kaki kami menginjak tumpukan sampah yang terendam air karena diguyur hujan kemarin, ada bagian yang kering, ada yang basah juga... mana yang dimana, udah ga bisa dibedain lagi-lah, yang ada semuanya jadi rata... sama baunya! Sama joroknya! Hiaaaa....

Jepret! Jepret!
Sambil celingak celinguk kiri kanan sambil ngambil foto dengan kamera seadanya itu... berharap dari fokus kamera bisa nemuin seseorang yang bisa diajak bicara, bukan karena bersahabat atau apa, tapi lebih tepatnya kita nyari seseorang yang lowong dan ngga lagi berada di posisi yang tak terjangkau, (perlu diingat, tumpukan sampah yang satu ke tumpukan sampah yang lain agaknya lagi bermusuhan, entah kenapa mereka dipisahkan oleh celah parit yang ukurannya kurang lebih semeteran...) jadi kalo harus lompat menuju lautan sampah yang luas disana itu rasanya agak gimanaaaa gitu... kami masih pengen hidup, belom mau mati...bukan karena tenggelam, tapi karena baunya, ga tahaaaaannn....

Tatapan berpasang-pasang mata dari wajah-wajah lelah para pemulung sampah agaknya mulai mengganggu proses pencarian kami, ngerasa agak canggung kalo diliatin kayak gitu, karna tatapannya bukanlah tatapan kagum kayak lagi ngeliatin artis lewat, tapi lebih kepada tatapan ngeliatin alien lewat... alien kesasar pula, ga nyambung aja kok ada siswa SMA cewe-cewe semuanya ujuk-ujuk nimbrung mendadak mulung di TPA...
Kalian bingung...???  sama, kita juga... :p


***
Lanjutken...

Celetuk salah seorang dari anggota kami, ”Woi, mau jalan sampe mana niii?”
Ups...! baru sadar, agaknya kami udah berjalan terlalu dalam... ya udah, kami putuskan untuk berhenti disitu kemudian searching disekitaran aja, siapa tau ada yang lagi nganggur, ga enak juga kalo mengganggu kerjaan mereka...

Waktu itu kami benar-benar berusaha untuk bersikap wajar, ngga pake nutupin hidung, nutupin rambut (takut wangi shampoo-nya ilang, hahaha, sowat dah...!), apalagi nutupin muka (nah kalo ini malah dikira tersangka razia...), takut kalo kami malah jadi gangguan buat mereka, kami berusaha untuk bertahan... tersenyum meski dalam hati udah cemberut kayak jeruk purut, tapi ngga masalah, yang penting tujuan utama terselesaikan!

Sampe kami liat ada seorang ibu lagi istirahat di pondokannya (pondokan ini juga dibangun atas dasar sampah, oleh sampah dan berbahan dasar sampah-sisa sisa tenda yang dibuang). Siiip-lah! Ini bisa dijadikan narasumber nih...kami berpikir cepat, trus langsung datang mendekati si ibu...

Senyam senyum ga jelas, cengengesan sambil ngomong, ”Permisi Bu, maaf mengganggu... kami boleh tanya-tanya dikit ngga, Bu?”

Si Ibu dengan ekspresi yang masih agak bingung menjawab, ”Oh, boleh dek...ada apa ya?”
”Ada sampah yang masih bisa dipake ga bu??” ee, Bukaaann...!

”Uhm, kami dari SMA PKIM, mau wawancara dikit Bu... tentang semua-semuanya...tentang kehidupan disini, tentang keluarga ibu, gitu kira-kira...”

”Oh.. Boleh dek, naik aja kesini, awas itu ada truk sampah mau lewat...”

Tiba-tiba, ngga disangka ngga dinyana karena ngga dengan sigap mengindahkan saran Ibu itu...

”Vrrrooooooooooommmmm!!!!!”

Prok-prok-prok!!!! SELAMAAATTTT, kita disuguhin asap hitam pekat dari knalpot truk sampah yang baru aja nyampe buat nuangin sampah fresh from downtown dari pusat kota Medan.
Sowat dah, sial!!!! Belom sempat selamatin diri udah kena semprot aja... ck...!!!

Yawdah, biar obrolannya lebih enak, kami naik ke tumpukan sampah tempat pondok ibu itu didirikan... Hop!

”Siang Bu... hehe... Kami mau tanya-tanya, ngga apa apa ya Bu?”

”Iya dek..silahkan..”

”Uhm... Ibu namanya siapa?”

”Aku Bu Eni...”

”Ibu umurnya berapa?”

--nah, ini dia jawabnya aku lupa (maaf, data-data detil hasil wawancara ilang kena terjangan trojan di PC-ku, huuu.... )


”Udah berapa lama ibu kerja disini jadi pemulung?”

”ya kurang  lebih .... tahunan lah dek...”

”Uhm, kalo disini tuh jenis sampah apa aja yang masuk ya Bu?”

”Jenisnya? Yah, semua lah... sampah basah, sampah kering, sampah bangunan, semua lah pokoknya campur jadi satu disitu...”
(bayangin aja gimana orang asli Medan kalo ngomong, pasti kebayang gimana emphasis-nya, hehehe)

”Uhm.... kalo menurut Ibu, sampah apa yang paling susah diurus? Yang paling berat buat menguraikannya?”

”sampah yang paling susah?” (emang ada ya sampah yang senang? Buakakakaka... pertanyaannya ngga keren ah.. :p)

”Maksudnya... gimana ya, kalo dibilang sampah yang paling kotor... ya, yang namanya sampah pastilah kotor (nah, itu tau?) , tapi, sampah yang paling ngga ibu sukai itu sampah yang kayak apa gitu loh Bu...?”

”Oooh... kalo aku, aku paling susah kalo sudah masuklah sampah dari rumah sakit...”

”Sampah dari RS? Kenapa gitu, Bu?”

”Iya... coba kelen bayangkan ajalah, sampah-sampah bekas operasi pasien-pasien, bekas infus kadang jarumnya terikut, sering juga kami dapat sampah-sampah bekas darah yang menggumpal-gumpal gitu dibuang gitu aja, kalo itu betullah, jijik kali rasanya ah, tapi mau kekmana lagi, udah itunya kerja awak ’kan...”

(sesaat kami terdiam... Oh My... ini bener-bener jauh lebih berat dari apa yang kami bayangkan…)
”oh.. gitu ya Bu? Ck... berarti semua sampah dicampur aduk aja ya BU, ngga ada pembagiannya?”

”Ya ngga ada lah dek... mana lagi sempat ngurus pembagiannya itu, ratakan aja semua jadi satunya itu, sampah semua... hahaha..”

(Oh dear, sounds so desperate...)

AND THIS IS THE MOST FAVOURITE PART THAT WE HAD IN THIS INTERVIEW.

“Jadi, selama ibu jadi pemulung, gimana perasaan Ibu? Apa pernah merasa menyesal dengan kondisi Ibu sekarang?”

”Dengan dikelilingi sampah kayak gini, pasti banyak kuman banyak penyakit, apalagi tadi Ibu bilang ada sampah yang langsung dari rumah sakit, pasti banyak kumannya ’kan itu...”

”Ahaha... cemmana lah dibilang ya dek... Kalo menyesal, ngga pernah saya menyesal, saya kerjakan ajalah apa yang udah saya jalani ini... Biarpun Cuma dapat penghasilan cukup cukup makan, kadang pun ngga cukup buat sekolahin anak-anakku, tapi tetap aku syukuri yang ada ini.”

”Kalo soal penyakit, biar kelen tau dek ya, selama saya jadi pemulung disini belum pernahlah ceritanya saya diopname gara-gara sakit... Hehe, pasti bingung kelen ’kan?”

”Ah, masa’??? Yang bener Bu?”

”Iyalah... tau kenapa bisa kayak gitu?? Karena taunya Tuhan itu kalo aku mampunya Cuma kerjaan kayak gini, jadi pemulung, ngutip sampah, jadi karena itulah dikasih Tuhan saya kesehatan, kekuatan, biar ngga sakit-sakit saya... Itulah baiknya Tuhan itu kan?

”Dia tahu kali mana yang perlu dikasih kesehatan lebih, coba kelen bayangkan kalo ngga adalah orang-orang kayak kami yang mau jadi pemulung, kemana semua dibuang sampah kota Medan ini?? Ya menumpuklah di pusat kota sana... sakitlah orang-orang semua... hehe...”

(Kami : Terdiam... Membisu... Bahkan sambil menahan air mata...)



Ajaib Tuhan!!!!

Memang sungguh, Dia itu Maha Adil.

Aku berpikir... kami- anak-anak yang dari kecil sudah dirawat dengan begitu amat baiknya oleh kedua orang tua lengkap dengan asupan nutrisi dan gizi yang cukup- sudah sekitar 2 atau 3 kali menjalani opname di RS. Dan si Ibu Eni ini...dia yang setiap harinya bermandikan kuman dan bakteri masih bisa mengucap terima kasih dan syukur untuk apa yang Tuhan beri... KESEHATAN dan KEKUATAN LEBIH.

Alangkah indahnya jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Ibu ini.
Sejenak menyadarkan kami untuk kembali pulang kepada kemurnian jiwa dan hati dan nurani.
Beranjak dari kekacauan dan kebisingan dan kemunafikan manusia masa-kini.

Oh God...

Selalu saja ada cara-Mu untuk mengajarkan kami, mengingatkan lagi bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekedar menjalani hidup dan kehidupan...
Dan bagaimana membuat kami sadar untuk senantiasa mengayak lautan pasir di hati kami untuk kembali menemukan serpihan-serpihan yang terhilang dan bagian-bagian yang terlupakan. Kata ”syukur” dan ”ikhlas”. Ajari kami lagi untuk memahami semua yang baik yang berasal dari kesucian dan kemurnian hati itu...

Kami telah mengembara.
Kami telah berkelana.
Kami telah berlibur.
Kami telah terhibur.
Kami telah berwisata....

Ke sebuah lautan sampah yang menyajikan pesona:
Seorang Ibu dengan sejuta ketulusan dan keikhlasan hatinya.

Mengais sampah demi sesuap nasi dan sejumput rejeki, untuk anaknya, untuk hidupnya, untuk dirinya....

Dengan selalu memanjatkan doa pada Tuhannya, tanpa mengeluh meski ia rapuh.
Dengan selalu bersyukur atas hidupnya, tanpa berkesah meski ia lelah.

Kami berlibur ke tempat yang paling jauh waktu itu : KEDALAM LUBUK HATI KAMI SENDIRI.


-fin-

INNP
Medan-090811-