Aku: Titik dan Daun Kering





Sesungguhnya ya Tuhan, aku tak pernah meminta segala hal yang menyulitkan, menyakitkan, atau mencelakakan sekalipun terjadi pada diriku… itu yang terbaik MENURUTKU.

Egoku dalam setiap doa membuat rapalan doa menjadi hambar, tak lagi harum sesuai ingin-Mu, dan apa yang kumintakan bukan apa yang kubutuhkan, tetapi apa yang kuinginkan.
Aku bersembunyi dibalik topeng kepura-puraan. Berpura-pura dengan kesadaranku dalam memaknai kehidupan yang Kau beri dengan cuma-cuma ini.

Sesungguhnya ya Tuhan, aku mengetahui bahwa Kau tahu apa yang paling aku perlu, Kau mengijinkan segala kesulitan, kesusahan, kesakitan, atau apa yang kusebut bencana sekalipun terjadi atas diriku itu karena Kau mengerti betul bahwa semuanya itu akan membuatku menjadi lebih tahan uji, itu MENURUTMU.
...
Aku ini ibarat titik, ya Tuhan. Debu pun aku tak sampai. Hanya setitik renik yang terabaikan. Terlalu hina dan fana jika ku bandingkan diriku kepada alam semesta Maha Karya-Mu ini, ya Tuhan. 

Aku ini ibarat daun kering, ya Tuhan. Bunga pun aku tak sampai. Hanya sehelai daun yang jatuh dari pohon yang meranggas. Terlalu ringkih dan rapuh jika kusejajarkan diriku dengan jagad raya Karya-Mu ini, ya Tuhan.

Tapi Tuhan, titik pun aku, kiranya perkenankanlah aku berada dalam satu stanza, dimana aku bisa menempatkan diriku dengan apik dan baik di sana, menjadi bagian paling akhir dari sebuah syair indah hasil gubahan-Mu, Bapa. Kiranya aku menjadi titik yang berguna dan berdayaguna, tak tersia-sia dalam hingar bingar jagad raya. 

Tapi Tuhan, daun kering pun aku, kiranya Kau perkenankan aku terbawa angin hendak-Mu untuk kemudian jatuh dan mendarat di sebuah taman asri yang Kau tata sendiri, jatuh di antara bunga-bunga indah kepunyaan-Mu untuk kemudian aku membusuk dan menjadi pupuk. Memberi faedah bagi bunga-bunga indah kepunyaan-Mu, Bapa. Kiranya aku pun menjadi daun kering yang berguna dan berdayaguna, tak tersia-sia dalam karut marut semesta. 

Aku ini bukanlah sesiapa, Tuhan. Terlalu berani aku meminta kepada-Mu. 
Terlalu lancang aku memohon pada-Mu. 

Seketika aku mengingat sabda-Mu dalam barisan ayat-ayat Injil-Mu. 
Kau yang berkuasa dan berada dalam segala kedigdayaan-Mu menyebutku mulia dan serupa dengan-Mu, ya Tuhan.

Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau mengasihiku sedemikian rupa, menembus batas keIlahian-Mu untuk setara dengan manusia yang hina.
Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau menunjukkan bulat hati-Mu mengambilku dari jerat maut, salib itu Kau jadikan bagian-Mu.
Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau senantiasa setia sepenuh hati-Mu di atas ketidaksetiaan dan pengkhianatanku pada-Mu.
Lalu aku? Apa yang sudah kuberi untukMu?
Tak ada.
Mestinya aku memberi segala cinta daya upaya karya dan karsa, tapi aku belum berbuat apa-apa.

Dalam kerendahan dan ketiadaanku, aku mengaku ya Tuhan. 
Bagian-Mu lah yang memenuhi kekosonganku agar kiranya kepenuhan-Mu menjadi bagianku. 

Berkenankah Kau, Tuhan?

Ya Tuhan, raga dan jiwa kiranya aku persembahkan sebagai bagian yang harus sepenuhnya menjadi kepunyaan Kerajaan-Mu di nirwana.

Tak bolehlah aku meminta-paksa, kupinjam dan kupakai tanpa maksud dan tujuan yang berguna di dunia, di tempat dimana aku Kau titipkan, sementara. 

Ya Tuhan, ijinkan aku meminjam raga ini sampai batas waktu yang Kau kehendaki.
Ajarilah aku untuk menggunakan dan merawatnya sedemikian baik, agar kelak ketika Kau memanggilku pulang, raga ini pun masih dalam keadaan yang Kau kehendaki.

Ya Tuhan, dalam kelemahan ragawi, kiranya jiwaku tetap hidup dan menjadi bagian yang paling indah yang bisa kupersembahkan untukMu kini dan nanti.

Tak ada alasan bagiku lagi untuk tak berucap “terima kasih, Tuhan”.
Atas segala susah dan senang…
Atas segala keberadaan dan ketiadaan…
Atas segala sehat dan sakit…
Atas segala tawa dan air mata…
Atas segala hidup dan nanti mati…
“Terima kasih, Tuhan.”


Eleg-"i"




Tasteless.

Kadang hanya menghidupi hidup seadanya...
Ambisi tentang segala macam pencapaianlah yang membawaku kemari.
Boleh kusebut begitu?

Atau, dengan navigasi dari semesta,
Setiba aku di sini, Dia sengaja membuatku demikian...
Ah, demikianlah.

Tak cukup puas aku bertanya dengan kata-kata dan bahasa,
Raga dan jiwaku kini turut mempertanyakan segalanya.
Apalah arti cinta?
Apalah arti nyawa?
Apalah artinya... segala teka teki yang seolah aku bangun sendiri, lalu sesat di dalamnya, lalu tersudut di salah satu labirin teka teki itu, lalu terdiam, hilang, hilang, dan hilang...

Mimpiku sederhana, tapi jalan menuju ke sana tak sesederhana mimpi itu sendiri.


Mimpi.
Ambisi.
Afeksi.

Apalah arti semua ini.


“Memorabilia : sebuah dekade untuk bertiga”



“Memorabilia : sebuah dekade untuk bertiga”

14 September 2012 at 12:43
Happy 10th anniversary buat kita, Wakbin, Nyak, Mbek. (^_^)

Wow, satu dasawarsa, bukanlah waktu yang singkat, teman…
Unit waktu sepuluh tahun yang kita jalani bersama-sama membuktikan bahwa kita telah, sedang dan akan terus diikat dalam kasih persahabatan yang menjanjikan kebersamaan, kehangatan, keceriaan, atau bahkan kegilaan di sela-sela lembaran hidup kita yang padat dan sesak oleh hiruk pikuk dunia.

Aku pernah bermimpi, satu kali aku ingin menulis, uhm, sebenar-benarnya menulis, tentang persahabatan kita. Aku tak peduli, berapa dekade yang sudah mereka habiskan untuk pertemanan mereka, tapi aku tetap merasa bangga, yaaa, ini satu dekade milik kita! \(^_^)/~yeii

Long way to go, teman…
Persahabatan itu tidak diukur dari perhitungan angka-angka belaka, tapi itu lebih kepada emosi, dan adanya di sini, di dalam hati. Bagaimana kita bisa saling berusaha untuk mengerti, memahami, dan saling berempati.
Saat satu di antara kita butuh teman untuk mendengarkan, kita menyediakan dua pasang telinga untuk mendengarkan.
Saat satu di antara kita butuh teman unuk menguatkan, kita menyediakan dua pasang tangan untuk menolong dan mendoakan.
Itu seninya berteman, bukan?
Hei, aku mau cerita, mungkin tak banyak,  sedikit tentang kalian, dan tentang apa saja yang sudah kita lalui bersama-sama…

  • Herdina Debyarta Saragih a.k.a. “Dina” (September 30th, 1987)
Aku sering panggil dia Dince, ato Nyak. Nama kecilnya “Deby”, tapi bagiku nama kecil itu kurang pas melekat di dia, terlalu “ayu”, gak kayak aslinya, whuakakakaka… (ga aci marah yaaaaa Nyak.. :p)
Dia ini si icebreaker kami… Saat yang lain mulai merasa suntuk, ada aja caranya buat bikin suasana hidup lagi. Caranya? Gila, entah itu dengan mengajak kami berlari-lari liar di bawah hujan, atau dengan mengajak  nyanyi teriak-teriakan di karaoke keluarga. Tiap kali aku ingatkan, “Din, pelan2 suaranyaaaaa! Yang lain terganggu!!”, spontan si gila satu ini jawab (dengan dialek Medan kentalnya), “Ah, mati dia sana! Peduli kali!”.

Soal romansa, bisa dibilang dia udah banyak makan asam garam makanya jadi asin gitu.. :p
Biasanya aku dan Tuty buka sesi konsultasi curahan hati sama beliau ini, bisa dibilang, dia sokoguru buat urusan cinta-cintaan, whueeeekekekeke… Sokoguru? Widdiiii…
Dina itu orangnya supel, supelmen, supelwoman, supelboy, pokoknya segala yang supel lah… Mudah bergaul sama siapa aja, termasuk orang yang tak dikenal (awas dihipnosis kw Nyak!) J
Bisa jadi, dia ini satu2nya manusia sanguin di antara kita bertiga.

  • Astuty Febriani Bintang a.k.a. “Wakbin” (February 24th, 1988)
Ini dia si makhluk plegmatik. Si bungsu yang paling cuek yang ngga pernah mau ambil pusing tentang apa pun yang terjadi di sekitarnya, dia bakal cuma tertarik tentang satu hal : Komik Serial Detektif Conan (yang aku ngga tau udah berapa banyak duit yang dia habiskan untuk melengkapi koleksi komiknya ini… ckckckck..)
Ingat tentang “godok godok” pasti ingat tentang Wakbin. Alasannya? Ah, tanpa alasan, ntar otomatis juga tau sendiri kenapa gitu… hihihi…
Paling anti sama yang namanya urusan hati atau romansa, aku dan Dina selalu gagal untuk jadi comblangnya, ckckck… kami sebagai temanmu merasa gagal, Bin! (*menangis pilu~~ (TT___TT)
Dibalik sifat cueknya, ternyata dia ini punya apresiasi yang tinggi terhadap hasil karya orang lain. Kalo udah suka sama sesuatu atau seseorang, tanpa ba bi bu dia bisa kasih pujian yang bener-bener tulus dan ikhlas fresh dari hatinya yang paling dalaaaaaaammm. Begitulah… J

  • Ira Natasha Naomi Purba a.k.a. “Mbek” (January 10th, 1987)
Nah, yang ini bisa ditebak lah. Pelengkap suasana… hehehe… si melankolik yang malu-malu dan mendayu-dayu. Halah!
Paling pendiam di antara dua orang tadi, tapi kalo gilanya keluar ya tetap aja jadi gila juga. (Mau gimana lagi, berteman ama dua orang gila sih.. :p)
Paling ga suka sama yang namanya kebisingan, makanya hidupnya cenderung monoton.
Kalo udah kepikiran sesuatu, mukanya berubah otomatis jadi cemberut kayak marmut. Kalo udah mencemaskan sesuatu, reflex mukanya merah karena panik. Kepanikan itu seringkali jadi kenikmatan tersendiri buat Dina dan Wakbin untuk mengusilinya, lagi dan lagi. Hahahaha… memang, dua teman itu niatnya ga bener banget deh.. ckckck..
Lebih suka mendengar daripada bicara, tapi akhir-akhir ini juga kayaknya mulai banyak berkomentar deh. Ga tau kenapa, efek pemanasan global, barangkali…? :D
Ingatannya tentang masa lalu gak terlalu baik, jadi sering dapat bantuan stimulus dari kedua temannya ini. Maklum, udah tuwir.
                                                                                                ***

Pengalaman-pengalaman yang pernah kita lewati bertiga itu ada beberapa yang ngena di ingatan, aku bisa kasih beberapa cerita singkatnya di sini:

#1 Let’s soaking under the made up-rain
Pernah satu kali, aku dan Wakbin main ke rumah Dince… waktu itu masih SMA, tepatnya kelas berapa aku lupa sih… cuaca hari itu agak mendung, ga tau kenapa kita tetap aja gas pol menuju rumah Dina, ya udah jelas niatnya mau apa kan? Mau main laaa~h… :D
Jderrr! Hujan pun turun dengan isengnya… mengganggu waktu bermain kami di luar ruangan. Tapi ya, situasi yang gimanapun bisa aja dijadikan kenangan, emang udah niat main di luar, akhirnya kami memutuskan untuk tetap main di bawah hujan… ga disangka, ternyata hujannya tak lama, alhasil basahnya kita juga nanggung, hahaha…
Ya udah, barangkali waktu itu kami kepikiran pepatah “kalau sudah kepalang basah, sekaligus sajalah mandi”. Maka, sang Dina pun mengambil selang, dan “Crrroooooootttt!!!!!” air menyemprot badanku dan tuty. Selamat. Basah sampe ke dalam-dalamnya. Gila! Hujan berhenti tak masalah, Dina menghadirkan hujan buatan di rumahnya. Terima kasih klinik TongPang, semenjak berobat ke sana, teman kami Dina jadi semakin gila. J

#2 Hide and Seek, Mbek!
Ini keisengan paling mengesalkan, kebetulan aku korbannya. Ini semua gara-gara keteledoranku… sesaat sesudah ganti baju olahraga ke baju seragam di kamar mandi, aku lupa masang balik jam tanganku (yang kebetulan waktu itu masih baru, dibelikan oleh ayah ibuku, halah!).
Aku lupa letakinnya dimana… dengan antengnya masuk kelas tanpa sadar kalo pergelangan tangan kiriku tak dilekati jam tangan. Sesampenya di kelas, aku teringat dan otomatis berubah jadi panic! Yihaaaa! Panic at the classroom. Buru-buru permisi ke guru minta ijin ke kamar mandi buat nyari tuuh jam tangan.
Di cari, dicari, …. 5 menit…10 menit… 1 jam… 1 tahun… 8 tahun kemudiaaaan (lebay!) aku tak menemukan jam sialan itu! Kemana diaaaa???
Dengan wajah panik dan mutung, aku balik ke kelas, dan entah kenapa aku melihat keanehan di wajah manusia dedemit itu berdua. Tuty yang ketawa cekikikan di depanku, dan Dina yang pura-pura longor* (pura-pura o’on) di bangku belakang mulai menunjukkan tanda-tanda akhir jaman, eh, tanda-tanda mencurigakan… aku kesal, aku kan lagi kebingungan, panikan, kenapa dua manusia ini ketawa ketiwi?
Ternyata, oh, ternyataaaa! Tuty menyimpan itu jam tangan di dia, dang a ngomongin ke aku sampe hampir bubar jam sekolah. Dari pengakuannya sih, dia katanya ngga bakal ngasih itu jam sampe besoknya, Cuma gara-gara aku niat laporin kehilangan jam ini ke wakil kepala sekolah, lalu lalu lalu Tuty pun panik, wakakakaa, buru-buru dia nyamperin sambil nyodorin itu jam ke aku.
What the hell???!! Mereka menikmati wajah panikku? Oh Tuhan, teman macam apa yang Kau hibahkan padaku ini…
Yah, trus mereka dengan sok bijaksananya bilang “makanya Mbek, lain kali jangan lalai… Diingat barang-barangmu di taro dimana…”
Demikianlah, pelajaran hari itu. Makasih ya Woooy.. (ga ikhlas juga, :p)

#3 dan seterusnya… ada banyaaaaaaaaaaaakkkk lagi. Eike capek, mau makan siang dulu a~h.
Hehehe…
                                                                                               ***
Demikanlah.
Semoga persahabatan itu ngga berhenti sampai di sepuluh tahun ini, semoga sampai dua puluh tahun lagi, sampai nanti, sampai abadi.

Sampe kita jadi tante-tante sukses dengan tas tintingnya masing-masing,
jadi tante-tante yang mulai direpotkan soal urusan pernikahan,
sampe jadi ibu-ibu yang gendong anaknya masing-masing dan direpotkan dengan urusan diaper dan bla bla bla segala macam, ngga sengaja ketemu di pasar, terus sok-sok menjanjikan anaknya untuk dijodohkan,
atau jadi ibu-ibu rumpi yang heboh kalo ketemu di mall (seolah2 itu mall milik kakek moyangnya),
sampe jadi nenek-nenek yang mulai membahas jumlah uban di kepalanya,
sampe jadi nenek-nenek yang rempong nanyain cat rambut merk apa yang paling bikin hitam,
sampe akhirnya kita terpisah karena usia dan waktu yang tak lagi berpihak pada kita… (T_T)

Kenanglah ini semua, teman.

Terima kasih kalian ada sebagai pengingat bahwa aku tak sendirian, demikian pula aku ada dan mengingatkan bahwa kalian tak sendirian.

Terima kasih untuk kebersamaan, tawa, tangis, ceria, susah, senang, usil, jahil, cerewet, ngambek, dan semua emosi yang terkuras selama 10 tahun ini.

Dalam jarak dan ruang yang berbeda, semoga kita tetap saling mengingat dan tetap saling mendoakan untuk satu dan yang lainnya.

“Care for each other, pray for each other”
Kita bukanlah sahabat yang bertemu dan berlalu begitu saja, kita adalah sahabat yang dipertemukan, disatukan dan akan terus dieratkan oleh kasih dari Tuhan.
Perbedaan bukan halangan, karena toh perbedaan yang membuat kita menjadi lebih paham artinya persahabatan.
Again, HAPPY 10th ANNIVERSARY (September 14th 2002 - September 14th 2012)

With love,
(^_^) ~ INNP

"As a stranger, not much..."



Di antara rasa benci dan rasa suka, ada satu rasa lagi,
"Rasa biasa".
Bisa kan, kamu bayangkan?

Aku tak membenci, tapi tak juga menyukai.
Jadi, biasa saja, seperti orang asing yang bertemu dalam gelombang langkah kaki ribuan manusia di sebuah jalan asing dan terasing.
Pagi tadi aku mendapati diriku berubah, untuk sebuah alasan.
Aku bercermin, tapi tak menatap sesiapa pun di sana.
Miris... kemana diriku yang dulu?
Yang biasa hangat, seperti tuangan pertama dalam cangkir kopi keramik
yang disajikan di atas tatakan putih yang mulai menguning karena kafein.
Kepada yang terdekat, kepada yang terkasih...
...
Di antara rasa benci dan rasa suka, ada satu rasa lagi,
"Rasa biasa".

 Pagi tadi aku bicara, membatin pada diri sendiri
Tragis... apa yang telah memakan hatiku?
Aku, yang biasanya kasih, seperti sekaan seorang ibu di pipi anak perempuannya,
yang menunjukkan halus dan kasihnya yang terwakilkan lewat seusap usapan tangannya.
....
Di antara rasa benci dan rasa suka, ada satu rasa lagi,
"Rasa biasa".
Demikianlah kini aku, kau, dan kita.
Kita terlalu lelah dimakan kenyataan

Aku, sesungguhnya tak ingin berubah
Tak akan kuijinkan apa atau siapa pun mengklaim hati kepunyaanku, tak akan!
Ini hatiku, milikku satu-satunya
Tak akan kuserahkan pada kejamnya kenyataan, busuknya kedengkian, pahitnya kebencian, atau panasnya amarah.
Tak akan...

Percayalah,
Di sela-sela kebekuan ini, kedua tangan masih ingin menjabat,
Menuangkan rasa baru kepada hati agar bisa menghangat
Namun, ijinkanlah kiranya saat ini
Aku beristirahat sejenak dari hiruk pikuk ini
Aku ingin mencari jalan kembali kepada kemurnian hati
Seandainya kau inginkan aku kembali,
Tunggulah, nanti.

Aku tak membenci, tapi tak juga menyukai.
Tak lebih, tak kurang.
Di antara rasa benci dan rasa suka, ada satu rasa lagi,
"Rasa biasa".
Demikianlah kiranya kita saat ini, sampai nanti.


Jatinangor,
27 Juni '13
Kamis dengan tekanan tinggi,
dengan lambung yang seperti ingin meledak,
12:06 WIB

Tentang ranjang, tentang rasa kehilangan





Hari ini aku membaca sebuah blog yang isinya menarasikan kisah seorang pria yang kehilangan istrinya karena kanker payudara.
Mengabadikannya dalam rangkaian foto-foto hitam putih, semua tersaji demikian sempurna
Tepat pada tempatnya, sesuai porsinya…

Sampailah aku di tiga foto terakhir…

Foto pertama…
Foto perempuan yang kelihatan kesakitan itu berbaring di atas tempat tidur dengan segala perangkat medis di kiri dan kanan tempat tidurnya,
Selimut bergulung di antara kakinya,
Buku-buku berserakan di samping kiri bantalnya.
Yang aku lihat bukan hanya semburat rasa ngilu yang terpancar dari wajah perempuan itu saja,
Aku sekaligus merasa ada rasa nyaman di dalam hati, ketika melihat dan mengetahui bahwa masih ada seseorang yang kita cintai terbaring-tentu saja, terbaring dan tertidur pulas-di atas tempat tidurnya.

Foto kedua…
Foto sebuah ranjang, bekas perempuan yang kesakitan itu dulunya terbaring lemah dan tak berdaya, kini tak ada lagi siapa pun di sana.
Ranjang itu kaku… klimis… rapi… tak ada lipatan apa-apa di seprainya. Pertanda bahwa, orang yang kita cintai tak lagi ada dan tak lagi bisa kita nikmati wajah tidurnya.

Foto terakhir…


Foto sebuah nisan bertuliskan nama perempuan itu dan dengan sepenggal kalimat kesukaannya semasa hidup “I LOVE IT ALL”.


Ya… dia menikmati sekali tiap hembusan nafas yang pernah ditiupkannya dari rongga nafasnya ketika hidup… dan dia bersyukur atas semuanya, dan mencintai setiap inchi kisah hidupnya.
***

Tentang ranjang

Pada suatu pagi…

Membuka pintu kamarnya perlahan-lahan, takut dia yang kita kasihi terbangun karena suara derit engsel-engsel pintu kamarnya
Mengintip dari celah tiga senti pintu yang sengaja kita buka,
Hanya untuk memastikan dia masih ada dan tidur dengan pulasnya di sana, 
di atas ranjangnya

Ya, ranjang itu berantakan
Pagi itu aku kembali membereskan dan merapikan tiap-tiap sisi seprai yang terlipat karena gerak-gerik tangan dan kaki orang yang tidur di atasnya.
Tadi malam, barangkali
Dia berkelana dalam mimpi-mimpi yang membuatnya merasa ngeri, atau justru sebaliknya…
Bermimpi berlari-lari di antara pasir putih tepi pantai…
Di antara jam tidurnya, sesekali kudengar suara beratnya berdehem
Suara berat yang keluar dari pita suara yang sudah aus

Entahlah, aku tak terlalu peduli…
Yang jelas aku merapikan ranjang itu dengan rasa syukur yang teramat sangat kepada Tuhanku
Masih bisa kubuat indah lagi tempat berbaring orang yang kusayangi
Masih bisa kutata lagi tiap-tiap sudut ranjang yang hangat itu
Masih bisa kurasakan ada kehidupan di tiap lipatan seprai di atas ranjang itu, dulu…

Sambil berucap “Selamat pagi, bagaimana tidurmu tadi malam, *Pung?”
Aku bersyukur karena dia ada
Aku bersyukur dia bisa tidur dengan lelapnya
Aku bersyukur untuk kehidupan yang dihidupinya

Mengajaknya untuk duduk sejenak, lalu melipatkan tangannya yang penuh kerutan
“Kita doa pagi ya, Pung”, ujarku waktu itu
Aku mulai merapalkan doa-doa syukur atas nafas dan oksigen bebas biaya yang kami nikmati hari ini
Doa-doa permohonan untuk kesehatan dan kekuatan bagi dia yang kami sayangi
Doa-doa permintaan maaf karena masih belum bisa menjadi manusia-manusia yang mulia di hadapan Sang Maha
Dan doa meminta perlindungan atas hidup yang singkat ini, sekiranya kami masih diberi satu hari lagi

Setelah mengakhiri doa,
Kurapikan tiap helai rambut putihnya yang mulai rontok itu
Menyisirinya, mengikatnya jadi buntut kuda, meski kadang aku melewatkan helai rambut di sisi telinganya
Dulu…

Dan kini…

Tentang ranjang yang sudah kosong

http://nitroz.site90.net
Menandakan bahwa tak ada sesiapapun di sana
Mengisyaratkan adanya ketiadaan
Dia yang kita kasihi sudah tak lagi butuh ranjang itu
Karena ia telah tidur dalam keabadian
Tak ada lagi suara batuk dan berdehem di antara mimpi-mimpinya
Semua tergantikan oleh suara kidung-kidung indah dan merdu di alam nirwana

Tinggallah aku, dan seisi rumahku menghayati arti keberadaannya
Lewat sebuah ranjang kosong dan dingin, yang dengan sengaja tetap dibalutkan seprai untuk menjaga keindahannya
“Dia pernah tidur di sana”, kataku dalam hati
Ranjang itu membisu,
Walau mungkin ingin,
Ia tak bisa ceritakan apa saja mimpi yang pernah ia lewatkan bersama orang yang terkasih

...
Itulah mengapa aku selalu suka memandangi ibuku tertidur di atas ranjang kapuknya
Dengan begitu, aku selalu bisa bersyukur dan menikmati perasaan lega sambil berkata dalam hati,
“Oh, dia masih tidur. Dia masih ada di sana”



Dan perlahan-lahan menutup kembali pintu kamarnya yang tadi kubuka,
Hanya untuk sekali lagi memastikan pada diri sendiri bahwa,“Ya, dia masih ada di sana”




Jatinangor, 21.5.13
Catatan sendu di Selasa yang haru

Tentang Jarak, Tentang Kita





Tentang jarak, tentang kita…

Long Distance Relationship? Is that a kind of relationship?

I don’t even believe that such kind of relationship exists…



I do BELIEVE.

A Long Distance Relationship is also a RE(A)Lationship

http://shelovesmagazine.com/wp-content/uploads/2012/02/longdistance.jpg
Kita berada di dua kota berbeda, jarak ribuan mil jauhnya… 
dan kebetulan, karena Indonesia adalah juga negara kepulauan, maka akan semakin sulit rasanya karena bukan hanya terpisah kota, tetapi juga terpisah oleh lautan dan kita berada di dua daratan yang berbeda…

Tapi, itu hanya spasial, ruang… bukan waktu atau tempo… kita memang berada di tempat yang berbeda, namun masih satu waktu, dan satu dimensi… 
Jadi, tak salah mencoba segala peluang, bukan?

Aku tahu persis bahwa untuk menjaga hubungan tetap stabil, maka dibutuhkan dua orang, dua individu, sepasang, yang memang benar-benar stabil, mampu menjaga diri dan emosinya sebaik mungkin.
Apa yang dijalani mungkin tidak semudah menjalaninya bersama pasangan yang ada di dalam kota yang sama, namun bagiku itu tak jauh berbeda, kenapa?

Nanti kucoba jelaskan alasannya…

Orang mungkin menganggap ini aneh, ini bodoh, dan ini hanya membuang-buang waktu saja
Tak masalah… aku bisa terima… karena toh mereka tak mengerti apa yang sedang aku dan dia jalani…

Aku hanya merasa bahwa, aku dan dia adalah orang-orang hebat yang meskipun hanya mengandalkan audio dan visual, dengan bantuan media tentunya, masih sanggup dan masih bisa bertahan sampai sejauh ini, dan berusaha untuk saling percaya satu dengan yang lainnya.
Kenapa?
Tentu saja, jawabannya kita semua sudah tahu… Karena sama-sama memiliki rasa yang sama. :)

Kali ini aku coba menuangkan pikiran, tentang kurang-lebihnya sebuah hubungan jarak jauh, subjektif memang, tapi toh ini hanya luapan perasaan yang tertuang lewat tulisan. 

Oke…
Apa sih kurang lebihnya menjalani hubungan macam ini?
Kekurangannya:
1. Ada kalanya jarak akan menjadi sangat terasa ketika kita mengetahui bahwa pasangan kita sedang :
   
  • SAKIT
  • Ini akan sangat menyiksa… Mengetahui dia yang jauh di sana sedang menderita, dan kita tak bisa berbuat apa-apa, setidaknya utuk membawakan segelas air putih hangat pun tak bisa, maka pada bagian ini aku merasa lemah, dan tak banyak berkomentar untuk menyanggahnya… :p
  • BUTUH BANTUAN
  • Bagian ini mungkin tidak terlalu crucial ya, karena meminta pertolongan tentu saja bisa kepada siapa pun yang ada di sekitar kita, hanya, akan jadi sulit rasanya ketika kita meminta bantuan untuk hal yang rasa-rasanya agak nyeleneh. Contoh, jujur saja, aku pernah setengah mati rasanya menahan rasa ngeri dan jijik mengusir seekor kadal yang nongkrong di depan pintu kamar dan merayap masuk ke dalam kamar kosku… dan saat itu… tak ada seorang pun yang bersedia membantu, kenapa? Ini sih karena mereka juga perempuan (dan aku pun perempuan), maka dari itulah rasa takut dan rasa jijiknya ya sama aja…Hiyaaaaahhh!!!Terpaksalah gagang sapu yang berbicara…  Nah, di saat butuh bantuan aneh seperti ini, rasanya pasangan kita akan melakukan apa pun yang akan membuat kita jadi lebih nyaman… 
  • BUTUH TUMPANGAN
  • Untuk mengantarkannya ke kampus, ke Rumah Sakit, atau ke manalah yang dia perlu, ada kalanya ojeg atau angkot tak lagi bisa…Karena tak selalu angkot atau ojeg itu ada tepat pada waktunya, apalagi ketika kita butuh secepatnya, biasanya adalah sesuatu yg urgent
2.  Ketika merasa kesepian, dan tak ada yang bisa diharapkan selain pasangan yang jauh jaraknya
Ada kalanya ketika kita merasa kesepian dan teman juga tak lagi ada untuk menemani karena tentu saja masing-masing punya kesibukan masing-masing pula, maka orang yang paling memungkinkan untuk menemani kita adalah pasangan. Tentu saja, bagi mereka yang LDR, hal ini akan mustahil untuk dilakukan… Kalau dia ada di kota yang sama setidaknya bisa menemani kita ngopi atau nonton film atau apalah yang membuat kita merasa sedikit terhibur dan tak lagi merasa kesepian, atau setidaknya menjadi pendengar setia yang menyediakan telinganya dengan sukarela :)
3. Rasa rindu yang menggebu, menjadikan kita tersiksa
Ada kalanya, rasa rindu yang menjadi-jadi tak lagi bisa dihindarkan… akibatnya? Tentu saja berakibat buruk untuk emosi dan perasaan. Menguras air mata, mendadak (bagi perempuan) mellow dan galau tak karuan… Lalu, bagi laki-laki? Aduh, aku kurang tahu… tanya langsung ke orangnya aja ntar… hehe…
4. Kurangnya pemahaman tentang kondisi terkini si pasangan
Ada kalanya, karena kita tak bisa saling melihat langsung, melihat bagaimana gesture, mimik wajah, dan sebagainya, dari pasangan kita, kita tak bisa menebak apakah dia sedang dalam kondisi yang baik atau buruk, terkadang kondisi macam ini bisa memunculkan kerusuhan massal… Pasalnya adalah, kita yang di ujung telepon bercerita dengan menggebu-gebunya, tapi pasangan kita di ujung lainnya menanggapi biasa saja dan seolah-olah tak ada respon seperti yang kita harapkan. Pahit..pahit… (TT__TT)


Kebaikannya:
1. Quality Time Together

Waktu yang akan dihabiskan bersamanya adalah waktu-waktu yang sangat berkualitas.  
Kenapa? Keduanya akan saling memahami bahwa mereka terpisah oleh jarak yang jauh, makanya ketika ada waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama di tempat yang sama pula, mereka akan sangat bijak dalam mengatur waktu kebersamaannya. Tak penting harus bersama-sama di tempat yang mewah dan mahal, cukup dengan meluangkan waktu, berbagi ide, melakukan kegilaan, berbagi berkat, atau berburu objek untuk difoto bersama-sama. Pasti semuanya akan terasa menyenangkan.
Selain itu, karena adanya pemahaman bahwa waktu yang sempit ini harus digunakan sebaik-baiknya, maka tak akan ada peluang untuk konflik. Artinya, masing-masing orang sadar bahwa ini adalah saat-saat yang harus diberi penghargaan, saat-saat dimana dia bisa membahagiakan pasangannya bersama-sama dengan dia di tempat yang sama pula, maka sudah sepantasnya jika konflik atau pertengkaran dihindarkan.
·          2. Terhindar dari rasa jenuh atau bosan
Pernah nggak merasa jenuh terhadap sesuatu atau seseorang? Pasti pernah. Rasa bosan atau jenuh pada umumnya dialami pasangan yang tinggal di satu kota, kebanyakan dari mereka akan menemui satu hari dimana mereka merasa bosan dan memutuskan untuk tidak bertemu pasangannya untuk sementara, barangkali untuk mengembalikan perasaannya ke posisi netral. Hal-hal seperti ini jarang terjadi jika daam hubungan LDR, ya, tentu saja tak ada rasa bosan, karena waktu untuk bertemu sangat terbatas, maka kesempatan bersama-sama itu akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

·    3.Menumbuhkan rasa empati dan toleransi yang tinggi

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, karena tinggal di tempat yang berjauhan dan tidak bisa saling melihat langsung satu sama lain, maka pasangan-pasangan yang menjalani LDR akan semakin menguatkan rasa peduli dan empatinya pada pasangannya yang berada jauh di lain kota. Memang konflik karena kurangnya empati dan peduli ini akan selalu ada, namun dari kesalahan-kesalahan sebelumnya, biasanya masing-masing dari mereka akan belajar dari kesalahan itu dan memperbaiki sensibilitasnya – yang dengan hanya mengandalkan bantuan audio-visual dari media yang tebatas- mereka berusaha untuk mengetahui kondisi pasangannya hanya dengan mendengar nada suaranya di telepon pada saat mengobrol, mendengar intonasinya-apakah sedang marah atau ceria- ketika dia bercerita tentang sesuatu, mendengar suara bindengnya-menunjukkan dia sedang dalam kondisi pilek atau batuk, dan sebagainya. Dan hal ini akan menjadi semakin kuat dari hari ke hari.


Begitulah…
Seperti apapun kondisinya, LDR bagiku adalah sesuatu yang patut diperjuangkan, dan itu bukan sebuah kekurangan, tetapi keunikan.

Kenapa LDR? Artinya bahwa ada sebuah perasaan berharga dan mulia yang harus diperjuangkan, meski harus berjauhan, tetapi yakinlah ketika masing-masing memiliki komitmen dan rasa percaya yang bisa menutupi satu atau dua kekurangan dalam sebuah hubungan jarak jauh, maka di situlah Tuhan akan memberikan jalan.

“Seseorang di sana, dia yang di lain kota itu adalah “seseorang” yang lebih istimewa dan lebih berharga untuk diperjuangkan dan dipertahankan kedudukannya, daripada mereka yang ‘bukan siapa-siapa’ meski berada di kota yang sama.”




Jatinangor, 10 Mei 2013
INNP