basi!





Sembilan lima belas, waktu Indonesia bagian barat.

Malam tadi aku banyak bermimpi

Bermimpi tentang mimpi yang dimimpikan oleh seorang pemimpi kelas teri; aku

Sekilas telingaku berdengung karena tanya demi tanya yang masih belum terjawab sampai kini, detik ini
Mencoba membobol gendang telinga, menggedor berkali-kali dan tanpa henti
Menuntut seseorang atau sesuatu dari hati untuk segera menjawab dan menyahuti
Meski aku sendiri tak tahu pasti, kapan semua mimpi bisa jadi nyata, 
senyata rasa nyeri yang kadang masih menggegerogoti kepala yang sebundar ini

Apa yang dilakukan seseorang di belakang layar?
Banyak.
Menenggak kafein bersama sebatang nikotin
Atau kafein yang dikawini oleh dopamine,
Hanya bila ingin segera bertemu pendahulunya di sana: surga atau neraka

Kontemplasi malam tadi berbuah sesuatu, tampaknya
Menyanjung-pujikan keikhlasan hati dalam berbuat dan melakukan
Tanpa iming-iming ini atau itu

Namun ketika kita menjejak kaki di ambang batas, masihkah kita menjadi “manusia”?
Hati ingin memberi, tetapi dunia menolak.
Kaki ingin melangkah, tetapi jalanan telah memagari dirinya dengan kawat-kawat berduri
Tangan ingin menolong, tetapi manusia telah lebih dulu membiarkan dirinya tenggelam dalam keotomatisan dunia yang katanya serba instan ini
Telinga ingin mendengar, tetapi ternyata mulut-mulut yang terkatup telah terlalu lelah berbicara lewat urat-urat halus berwarna warni
Hanya menyisakan kesenyapan yang memuakkan
Menihilkan siluet diri
Bahkan bayangan pun tak lagi diakui
Dan pengakuan untuk sebuah eksistensi hanyalah tingaal segenggam basa basi
Yang memang benar-benar basi.
Basi!




Ceritaku (bukan) sejarahku



Tentang biru, tentang abu-abu
Suatu kali, pernah kutantang diriku
Untuk membuka mata lebar-lebar, selebar fantasiku
Menatap hingar bingar dunia
Bergerilya, antara fakta dan realita, dalam satu sisi waktu
Yang sialnya tidak pernah terhenti dan membatu

Dadaku sesak
Bukan karena tertimpa, tertindih atau apa
Nafasku tertahan
Ingin muntah, muntah, dan muntah
Aku berkaca, mataku nanar
Dan yang kulihat di pantulan bola mataku hanyalah bayangan yang bukan diriku
Lalu?

Aku membisu

Terkadang kegilaan dan kewarasan sulit untuk dibedakan
Kapan kau akan disebut gila?
Kapan kau akan disebut waras?
Tak ada batasan
Bagi orang sinting kau mungkin waras
Bagi orang waras kau mungkin gila
Atas dasar apa?
Bukankah tak ada ukuran pasti di dunia ini?
Terserah
Kita bebas memillih, bahkan untuk hidup atau mati
Yang jelas, hari ini aku memilih bersetubuh dengan hidup
Menikmati sentuhan demi sentuhan yang walau pada akhirnya akan bermuara pada kesakitan
Nyeri di tulang, dada, dan punggung belakang

Aku menyerah pada keadaan
Lalu memutuskan untuk sejenak mata ini memejam
Memberi jeda pada rongga dada
Menahan nafas, melihat hitam, lalu meninggi mengangkasa
Kulihat biru setelah abu-abu
Gradasi warna hitam dan putih yang selalu membayangi sudut kiri kanan mataku
Aku (mungkin) suka bagian itu
Bagian dimana aku mulai ragu-ragu tentang segala sesuatu
Itu... Itulah aku!

Aku membiru sebelum menjadi abu
Dikembalikan pada wujud asalku
Keberadaan dari ketiadaan
Setelah ada, muncullah tiada
Aku kehilangan, kemudian menemukan
Lagi menemukan, kemudian kehilangan
Demikian seterusnya
Mengenalku, bukan berarti memahamiku
Pada akhirnya aku mengaku
Bahwa aku sesungguhnya bukan benda imajiner di dalam kepalamu
Aku ini rumit, aku ini sederhana




Aku ini Ira....

"Pathetic Romantic" on the movie...




Helloooo duniaaaaa....

Ah, ga tahan nih jari-jari pengen ngetik sesuatu yang non akademis. (maaf Pak Dosen, saya ga kuat lagi baca teori malam ini, huweee... (TT___TT) )

Kali ini mau nyoba nyinggung tentang scene paling romantis di film-film barat yang pernah aku tonton. Dua diantaranya  adalah “a Walk to Remember” dan “Con Air”, ga lupa juga disertakan OST yang jadi background musicnya momen-momen itu... Let’s cekidot.

Aku bukan berniat bikin sebuah sinopsis sih, cuma sepenggal bagian dimana kesan romantisnya benar-benar terasa di dua film ini.


Tragedi Landon dan Jamie : a Walk to Remember

Sesudah Jamie diajak jalan sama Landon, malam itu Jamie kelihatan senang banget, karena selama ini ngga ada seorang teman cowok yang pernah mengajak dia keluar malam setidaknya untuk jalan keliling kota. Di tengah perjalanan, Jamie yang tadinya sudah memperingatkan Landon untuk tidak jatuh cinta sama dia, pelan-pelan mulai bilang “I’m sick-aku sakit”. Dan Landon yang kebingungan mengajaknya segera bergegas pulang lalu memintanya minum obat. Landon sama sekali tak punya gambaran tentang penyakit berat yang diderita Jamie sampai akhirnya Jamie memberanikan diri bilang bahwa dia mengidap Leukimia, penyakit yang kemungkinan untuk sembuhnya sangat-sangat tipis. Landon yang kaget mendengar pengakuan Jamie serasa tersambar petir, malam itu dia benar-benar bingung tak tahu harus berbuat apa dan bersikap bagaimana, yang jelas dia sangat sedih mendengar pengakuan Jamie.

Tapi Landon tak menyerah, dia tak meninggalkan Jamie begitu saja setelah dia tahu keadaan yang sebenarnya, justru dia malah ingin membantu Jamie merealisasikan daftar impian-impian yang dia ingin capai sebelum dia menghadap Tuhan. Dan itu terasa manis sekali. Tragis, tetapi manis. Ckckck...
Berikut ini cuplikan dialognya dalam bahasa asli (English):

Jamie: I'm sick.
Landon: I'll take you home. You'll be be...
Jamie: No. Landon! I'm sick. I have Leukemia.
Landon: No. You're 18. You - you're perfect.
Jamie: No. I found out two years ago and I've stopped responding to treatments.
Landon: So why didn't you tell me?
Jamie: The doctor said I should go on and live life normally as best I could. I - I didn't want anybody to be weird around me.
Landon: Including me?
Jamie: Especially you!
[Jamie looks down]
Jamie: [Landon gets upset]
Jamie: Ya know, I was getting along with everything fine. I accepted it, and then you happened! I do not need a reason to be angry with God.[ Jamie runs away]
(dikutip dari http://natasyaolivia.blogspot.com/2011/01/walk-to-remember.html)

Saat Jamie bilang “I’m sick” pelan-pelan mengalun lagu “I Dare You to Move” yang dibawakan band Switchfoot. Dan menurutku ini adalah bagian yang benar-benar menyayat hati. Keren.


An Emergency Landing in Las Vegas: the meet of the Poe’s

Satu lagi action movie yang sisi romatisnya ngga kalah kayak drama-drama melankolik. Con Air.
Bagian yang bikin film ini kelihatan rusuh sekali adalah bagian dimana Cameron Poe (Nicholas Cage) berjuang mati-matian untuk mendaratkan pesawat yang sudah dibajak oleh *rekan-rekan narapidananya di kota yang padat merayap Las Vegas. Pesawat yang sudah tak terkendali melayang rendah di atas kota Vegas, dan Poe berusaha memaksa pilot dadakan yang juga seorang napi (maaf, lupa namanya) untuk segera melakukan landing sementara pesawat sudah kehabisan bahan bakar dan mustahil untuk mendaratkannya dengan safe di bandara terdekat, McCarran Int’l Airport. Keadaan ini membuat mereka semua panik. 

Cameron Poe yang sudah bebas tahanan bisa saja meninggalkan situasi yang hectic itu, namun loyalitasnya pada seorang teman yang sakit, O’dell, membuatnya bertahan dan mengusahakan yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk temannya yang sedang terluka itu. Cameron yang berniat menemui istri dan anaknya menahan rasa rindunya yang teramat sangat demi menyelamatkan temannya, meskipun pada saat itu, Casey, putri tunggalnya, sedang berulang tahun.  Setelah berjuang sekian lama, akhirnya pesawat pun mendarat dengan hantaman yang keras di sebuah lobi hotel dan menabrak tiang penyangga sampai akhirnya pesawat berhenti dengan terpaksa.  Setelah pesawat berhenti dan mereka berhasil keluar, dan setelah mengalami perkelahian yang cukup alot, akhirnya Cameron mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Tricia, istrinya, dan Casey, putrinya. 

Dengan menggenggam sebuah boneka kelinci yang sudah lusuh karena sempat tersapu air di jalanan, dan dalam keadaan yang amat sangat tak mendukung, di antara kerusuhan dan karut marut kota akibat kejadian jatuhnya pesawat itu, dan dengan penampilan yang begitu berantakan, akhirnya  Cameron memberanikan diri untuk menemui mereka di salah satu sisi jalan.
Dengan canggung Tricia menyapa Cameron, sepenggal dialognya:

Trisha Poe: 'Hello Cameron'
Cameron Poe: 'Hello hummingbird’

Tricia memperkenalkan Cameron kepada Casey, putri satu-satunya itu. Casey yang merasa takut melihat penampilan urakan ayahnya yang belum pernah ia temui itu menyelipkan wajah mungilnya dibalik baju ibunya, Tricia. Cameron menyodorkan boneka lusuh itu sebagai hadiah ulang tahun Casey, dengan ragu-ragu Casey menerimanya setelah diperintahkan ibunya.

Saat Cameron perlahan-lahan merangkul dan memeluk Tricia, lamat-lamat mengalun suara halusnya Trisha Yearwood membawakan lagu “How do I Live”-nya. Bagian ini terasa sangat romantis, entah kenapa, ditengah ke-hectic-an situasi saat itu, pemandangan saat The Poes saling berpelukan sangat menyentuh hati. Uh, romantis sekali..... (^__^)d


                                                               _____________________
That’s it. Sekian, terima kasih.

INNP. 04.07.12

Nocturnal Animal




Hei, malam ini aku dan PC-ku saling menatap

Bertegur sapa setiap malam, 
kutegakkan sisi layarnya 90 derajat, berharap setegak itulah aku duduk di kursi dan bersandar dengan punggung yang ditopang oleh tulang belakang

Aku dan PC masih juga saling menatap
Mataku nanar, kosong dan menggamang, entah apa yang aku sedang lakukan

PC pun demikian,
Meski layar putihnya mengisyaratkan keinginan untuk segera dicoreti dengan warna warni, 
dengan kata yang membawa makna, atau syair di setiap sisinya…

Baiklah, baiklah…

a….s…d…f….g…

Hm, apa ya…

Terlalu banyak teori yang aku terima
Terlalu banyak cerita yang aku dengar
Terlalu banyak asumsi yang aku reka
Terlalu banyak omong kosong yang aku cerna
Dan semuanya, menghasilkan “hampa”

Menit ke menit berlalu, jam di sudut kamarku pun mulai mengigau
Menyuarakan denyut detiknya yang seakan berkejaran dengan denyut jantungku
“Hah, mau balapan kamu denganku?Berani kamu?”

Berbeda, tentu saja, Ra.
Si Red Weker hidup karena batu baterai
Si Ra hidup karena Batu Penjuru: Tuhannya
Si weker punya banyak nyawa, tinggal ganti baterai saja
Si Ra hidupnya cuma sekali, jika mati, tak akan terganti

“Weker, sudahlah… jangan mengolok-olokku dengan bunyi ‘tik-tok’mu itu!”

Apa pedulinya, toh dia tak punya telinga…

Tuh, ‘kan? Kamu mulai ngaco Ra!

Ya, wajar sajalah… ini sudah tengah malam, imajinasi menggila, fantasi meliar
Sayangnya, tak ada objek yang bisa dijadikan fantasi, hahaha…

Berfantasi tentang teori, organisasi, metodologi, ideologi, geologi, grafologi, kopekologi, bacotologi, cintologi, atau bahkan astrologi?
Phuh! Sayangnya mereka tak cukup seksi untuk dijadikan fantasi… aku tak merasa horny!

Coba lagi… 

Mandeg!
Bah! Itu bukan fantasi…! Itu isi kepalamu saat ini, isi kepala yang tak terbahasakan dengan baik; benang kusut, karut marut, acak kadut, belalang kadut, ular kadut! 

Dut, Dut, Baduuuuuttt!!!! Pinjamkan aku wajahmu, Dut! 

Biar dunia lihat aku tersenyum, bersembunyi di balik senyum palsu badutmu, memperdaya mereka dengan senyum palsu dan perut buncitmu yang kelihatan berbahagia padahal sebenarnya sengsara!  

Coba lagi…

Stuck! 
Halah, ini sebenarnya apaan sih? Yang bergelayut di kepala kok malah binatang hitam bersayap? Laron bukan? Gagak bukan? Kampret, barangkali?

Preeett! Kampret!

Pinjamkan aku tenagamu, matamu yang bisa menerawang dalam gelap malam untuk mencari mangsa itu! Biar aku bisa memangsa kata dan memamahbiakkannya menjadi untaian berjuta makna dalam rongga kepala dan dada, malam ini… besok juga… lusa boleh… seterusnya juga lah…

Aku tak berselera untuk tidur…


….
Ra, kamu ngelindur Ra!
Daritadi kamu ngapain?
Entah…

"Eeeh! PC-ku, kamu kok tidur duluaaaaan? Katanya kamu mau jadi 2 AM friend-ku? Ih, kamu pengkhianat! Kamu ninggalin aku terjaga sendirian…"

Apa sekalian aku jadikan saja kampret ini masuk dalam daftar kompanion?
Biar aku bisa terus on?

/Jtgr/24.05.12

overlap-ku dan ibu




Overlap-ku dan Ibu*

Dua puluh tahun yang lalu:
Mamak masih kuat, masih gesit, masih semangat, masih segar, masih tangguh, masih fit, masih bisa dengan lincahnya kesana-sini bak wonder woman, masih mau memenuhi semua inginku yang tanpa henti, masih sibuk dengan urusan kantor dan ini dan itu, masih serba bisa, masih mau menemaniku bermain berlama-lama meski dengan terpaksa karena waktu yang amat tersita.

Adek masih kecil, masih ingusan, masih belum tau artinya hidup, masih suka merengek minta dibelikan jajan, masih suka main di pasir dengan celana yang kotor di bagian bokongnya, masih ompong gigi serinya karena kebanyakan makan cokelat, masih lugu, masih innocent, masih bangga dengan rambut ikalnya yang mirip sarang tawon itu, masih bangga dengan pipi tembem-nya yang seperti tomat itu.

Sepuluh  tahun yang lalu:
Mamak masih (juga) sibuk dengan segala urusan kantor dan rumah, masih gesit, masih lincah, masih hafal nama-nama tokoh kartun di TV kesayangan si bungsu, masih ingat kapan waktunya membawa anak-anaknya kontrol gigi, masih ingat kapan harus membantu anak bungsunya menggunting kuku tangan dan kaki, masih ingat kapan waktunya harus membereskan baju seragam putih-merah si bungsu dan seragam putih-birunya si sulung, masih bisa melakukan banyak hal, masih sibuk dengan file-file yang dibawa dari kantor menuju pulang, masih jam terbang tinggi, TETAPI mulai mencereweti banyak hal, mengomentari cara makan anak-anaknya, mulai mengomentari lantai rumah yang kurang bersih disapu, mulai mengomentari keterlambatan pulang anak-anaknya dari sekolah, mulai meributi soal gaya rambut si sulung, mulai mengomentari soal rapor dan nilai, mulai membuat banyak regulasi, mulai mengomentari cara bergaul, dan mulai meributi soal barang-barang tak terpakai yang membuat kamar jadi tak terlihat rapi.

Adek mulai beranjak remaja, masih belum mengerti apa kesibukan Mamak, apa kesibukan Bapak, apa kesibukan Abang, masih saja berpikir ‘cetek’, masih suka menonton Tom & Jerry di televisi,  TETAPI mulai juga suka nonton drama-drama percintaan picisan, mulai mengenal cinta-monyetan, mulai sibuk mengurusi rambut, mulai sibuk memilih-milih kondisioner yang paling bagus, mulai sibuk memilih-milih warna baju yang match ke kulitnya, mulai bertingkah masa bodoh tentang seisi rumahnya, mulai banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri, lebih banyak menuntut itu dan ini, mulai sibuk merias-rias diri, mulai mengenal teknologi, mulai banyak memakan biaya untuk sekolah, bimbingan, kursus macam-macam, bahkan biaya untuk perawatan badan.

Tiga tahun terakhir:
Mamak mulai kehilangan kelincahannya, mulai sering merasa nyeri di kaki, lutut, dan tangannya, mulai berpikir keras tentang proyeksi jangka pendek, mulai banyak menguras pikiran untuk macam-macam hal, mulai menurunkan tempo allegro-nya menjadi adagio, mulai melupakan hal-hal yang esensial, mulai tak hafal istilah-istilah asing, mulai tak bisa mengikuti lagi teknologi, mulai sulit mengakomodasikan pupil matanya untuk membaca, mulai merasa lelah jika harus berjalan lama, mulai merasa lelah jika harus bercerita berlama-lama, mulai merasa lelah –katanya karena bobot badan-, mulai menjaga kadar gula dalam darah, mulai mengonsumsi suplemen-suplemen penjaga kondisi badan, mulai menjadi sangat sensitif, mulai sibuk mengurusi dapur rumah (saja), mulai sibuk mengurusi masakan dan makanan yang dirasa kurang bumbu, TETAPI juga semakin peduli (bahkan terlalu, barangkali) kepada orang lain, mulai meningkatkan proteksi,  mulai merasa perlu untuk menggeluti peradatan, mulai mendekatkan diri (lebih lagi) pada Tuhan, dan masih sering mengkritisi hal-hal yang detail sekalipun.

Adek sudah dewasa*, umurnya sekarang sudah kepala dua, mulai sibuk mengejar cita-cita, mulai belajar tentang cinta (meski harus jatuh, bangkit, dan jatuh lagi karenanya), mulai banyak mengadopsi istilah-istilah asing, mulai memperluas wawasan, mulai peduli soal kesehatan, mulai menyibukkan diri dengan kesibukannya sendiri, mulai berpikir keras tentang hidupdan segala proyeksi masa depan, mulai meningkatkan kualitas diri, mulai mengesampingkan pikiran-pikiran yang kekanak-kanakan, mulai bisa mnegendalikan emosi, mulai berpikir lebih kritis lagi, mulai memahami-terus berusaha memahami- tentang arti hidup yang sesungguhnya, mulai memahami bahwa DIA TAK LAGI PUNYA BANYAK WAKTU!
…

Aku dan Ibu* selalu overlap tentang waktu. Saat aku bertumbuh, Ibu tak selalu ada di sampingku, tak selalu meninabobokkan aku, peran Ibu digantikan nenek yang rela mengurusi karena ibu yang sibuk bekerja dengan alasan-alasan tertentu, dan aku berusaha untuk memahami itu. Dan di saat aku beranjak dewasa, Ibu yang lebih luang waktu mulai kehilangan aku. Sekarang, yang aku sadari adalah bahwa aku memang tak lagi punya banyak waktu.
Mungkin setiap lipatan dalam kerutan wajahmu adalah waktuku yang terbuang percuma, tapi bagimu setiap lipatan dalam kerutan adalah perjuangan, dan aku sekarang mulai paham. Segalanya untuk anak: itulah Ibu.
Dalam ruang dan waktu yang masih bersisa ini, ingin aku balikkan keadaan bahwa ‘segalanya untuk ibu’, itu mauku. Semoga Sang Maha masih memberi masa untuk aku bisa melakukan segala yang terbaik buat Ibu. Alasan aku hidup dan bertahan adalah Ibu, sama seperti Ibu yang menjadikanku alasan untuk tetap berjuang sampai akhir, sampai pada masa semua rambutmu mulai memutih, anak-anak selalu jadi alasanmu untuk tetap bertahan dan berjuang. Aku pun demikian. 

Melihatmu mulai kepayahan saat harus turun dan menaiki tangga, aku merasa sesak di rongga dada.
Melihatmu mulai kesulitan membacakan tanggal kadaluarsa di bungkus roti, aku merasa hancur hati.
Mendengarmu mulai sering mengeluhkan rasa nyeri di pinggang, aku merasa ingin terbang menuju pulang.
Mendengarmu mulai pusing karena beban ini dan itu, aku merasa semakin hancur dengan sebongkah rasa rindu.
Melihatmu mulai sering tertidur mendadak di depan televisi, membuatku menjadi ingin lebih introspeksi.
Melihatmu mulai mengkonsumsi bermacam obat untuk tetap menjaga sehat, membuat aku semakin ingin tetap merasa dekat.
Membuatku ingin semakin cepat mengakhiri masa yang berlaku sekarang ini, menyelesaikan tanggung jawab pribadi dan menghadiahkan Senyum yang Abadi.

Maka bergegaslah, Ra!



#Lagi, di DAMRI hari ini...#



Lagi, di Damri hari ini
Dalam perjalanan lain mencari-cari inspirasi
Ke sana. Ke sini.
Lagi, di Damri
Ragaku berdiam di antara jajaran kursi
Berdampingan dengan manusia asing
Yang sama sekali tak kukenali
Yang kepalanya berayun kesana kemari
Karena rasa kantuk yang teramat sangat merajai
Insomnia tadi malam, barangkali?

Ah, persetan dengan itu!

Pikiranku sesaat mengembara ke masa lalu
Singgah di sebuah perhentian yang menyesakkan : trauma?
Entah, mungkin itu namanya

Berkelana jauh ke masa depan
Aku mengetuk sebuah pintu milik Sang Mimpi
Namun tak dibukakan olehnya

Mengapa?
Apa karena aku sedang ada dalam realita?

“Kau terlalu pengecut untuk bermimpi, kau tak pantas berada di sini!”, bentaknya
Kejam…

Lalu, aku harus apa? Harus bagaimana?

“Tanya diri sendiri! Kembalilah kepada ‘kini’!”
Aku tertegun

Sejenak aku kehilangan bayanganku sendiri di bola mata Sang Mimpi
Yang sedari tadi mengamati dan berinteraksi lewat jendela Imajinasi

Aku terisak
Terlalu takut untuk tinggal berlama-lama bersama masa lalu dan sejuta kenangannya
Dan terlalu pengecut untuk mengunjungi masa depan dengan segala impiannya

Maka kuputuskan aku harus dengan berani memilih berhadapan dengan  “Kini”
Karena hanya dia yang kumiliki saat ini

Tak untuk menyesali yang telah terjadi di masa lalu
Tak juga untuk mencipta penyesalan baru untuk masa depan
Aku berhadapan dengan Kini dan Sekarang, di sini, di tempat di mana aku ada
Aku tak akan lari dan menjadi berang
Inginku, dengan keyakinan dan dengan tenang
Kuhadapi segala kekinian hidup
dan hidupku saat ini, kini
berharap mendapati sebuah "nanti" yang menawan hati... (^_^)


innp. 30.04.12. Akhir April.

#evaporasi#



Di mataku, ini kabut seperti berselaput.
Tinggal tunggu hari, ah, tunggu detik saja ketika semuanya berevaporasi
menjadi butir-butir air yg melembabkan hati,
membawa kekacauan yang karut marut dan acak kadut
seiring dengan hujan kata-kata yang membasahi luka




Kusisihkan kepingan yang masih terpakai
dengan alasan, kelak kepingan itu mungkin bisa menjadi sejumput harapan
Di masa yang akan datang, aku tak lagi bisa meyakini
bahwa kita sedang menuju kepada satu destinasi yang sama
tapi mungkin itu hanya cerita yang melegenda

"sebenarnya apa yang aku lakukan?"

Menghabiskan waktuku dengan sia-sia
hanya untuk menemanimu bercengkrama
Kita seperti sedang dimabukkan oleh arak asmara
hari ini...
Kita seperti pendemo yang berorasi ke sana sini
esok hari...
Dan kali ini, drama apa lagi yang kita mainkan?
Apa kau dan aku tak merasa bosan?
Kita hampir kehabisan tema dan peran,
tapi mengapa kita masih berusaha untuk bertahan?
Bukankah kau punya hak dan kesempatan untuk segera berlalu?
Aku pun demikian, aku pun ingin berlalu...


Berarak awan hitam memayungi langit hari ini
Apa salahku, apa salahmu?
Deru mesin kendaraan membuatku terbakar emosi
Apa maumu, apa mauku?
Kota kecil ini terasa berisik sekali
membuatku semakin menjadi-jadi

Rasanya ingin...
Memuntahkan apa yang sudah kutelan dari suapan kata-kata
Memuntahkan segala stanza yang dituangkan dengan cangkir bermotifkan romansa
Namun tragis...
Kutelan semuanya sekaligus,
sampai membuatku merasakan kejenuhan...
aku mual...
Ingin kumuntahkan!