Tentang Jarak, Tentang Kita





Tentang jarak, tentang kita…

Long Distance Relationship? Is that a kind of relationship?

I don’t even believe that such kind of relationship exists…



I do BELIEVE.

A Long Distance Relationship is also a RE(A)Lationship

http://shelovesmagazine.com/wp-content/uploads/2012/02/longdistance.jpg
Kita berada di dua kota berbeda, jarak ribuan mil jauhnya… 
dan kebetulan, karena Indonesia adalah juga negara kepulauan, maka akan semakin sulit rasanya karena bukan hanya terpisah kota, tetapi juga terpisah oleh lautan dan kita berada di dua daratan yang berbeda…

Tapi, itu hanya spasial, ruang… bukan waktu atau tempo… kita memang berada di tempat yang berbeda, namun masih satu waktu, dan satu dimensi… 
Jadi, tak salah mencoba segala peluang, bukan?

Aku tahu persis bahwa untuk menjaga hubungan tetap stabil, maka dibutuhkan dua orang, dua individu, sepasang, yang memang benar-benar stabil, mampu menjaga diri dan emosinya sebaik mungkin.
Apa yang dijalani mungkin tidak semudah menjalaninya bersama pasangan yang ada di dalam kota yang sama, namun bagiku itu tak jauh berbeda, kenapa?

Nanti kucoba jelaskan alasannya…

Orang mungkin menganggap ini aneh, ini bodoh, dan ini hanya membuang-buang waktu saja
Tak masalah… aku bisa terima… karena toh mereka tak mengerti apa yang sedang aku dan dia jalani…

Aku hanya merasa bahwa, aku dan dia adalah orang-orang hebat yang meskipun hanya mengandalkan audio dan visual, dengan bantuan media tentunya, masih sanggup dan masih bisa bertahan sampai sejauh ini, dan berusaha untuk saling percaya satu dengan yang lainnya.
Kenapa?
Tentu saja, jawabannya kita semua sudah tahu… Karena sama-sama memiliki rasa yang sama. :)

Kali ini aku coba menuangkan pikiran, tentang kurang-lebihnya sebuah hubungan jarak jauh, subjektif memang, tapi toh ini hanya luapan perasaan yang tertuang lewat tulisan. 

Oke…
Apa sih kurang lebihnya menjalani hubungan macam ini?
Kekurangannya:
1. Ada kalanya jarak akan menjadi sangat terasa ketika kita mengetahui bahwa pasangan kita sedang :
   
  • SAKIT
  • Ini akan sangat menyiksa… Mengetahui dia yang jauh di sana sedang menderita, dan kita tak bisa berbuat apa-apa, setidaknya utuk membawakan segelas air putih hangat pun tak bisa, maka pada bagian ini aku merasa lemah, dan tak banyak berkomentar untuk menyanggahnya… :p
  • BUTUH BANTUAN
  • Bagian ini mungkin tidak terlalu crucial ya, karena meminta pertolongan tentu saja bisa kepada siapa pun yang ada di sekitar kita, hanya, akan jadi sulit rasanya ketika kita meminta bantuan untuk hal yang rasa-rasanya agak nyeleneh. Contoh, jujur saja, aku pernah setengah mati rasanya menahan rasa ngeri dan jijik mengusir seekor kadal yang nongkrong di depan pintu kamar dan merayap masuk ke dalam kamar kosku… dan saat itu… tak ada seorang pun yang bersedia membantu, kenapa? Ini sih karena mereka juga perempuan (dan aku pun perempuan), maka dari itulah rasa takut dan rasa jijiknya ya sama aja…Hiyaaaaahhh!!!Terpaksalah gagang sapu yang berbicara…  Nah, di saat butuh bantuan aneh seperti ini, rasanya pasangan kita akan melakukan apa pun yang akan membuat kita jadi lebih nyaman… 
  • BUTUH TUMPANGAN
  • Untuk mengantarkannya ke kampus, ke Rumah Sakit, atau ke manalah yang dia perlu, ada kalanya ojeg atau angkot tak lagi bisa…Karena tak selalu angkot atau ojeg itu ada tepat pada waktunya, apalagi ketika kita butuh secepatnya, biasanya adalah sesuatu yg urgent
2.  Ketika merasa kesepian, dan tak ada yang bisa diharapkan selain pasangan yang jauh jaraknya
Ada kalanya ketika kita merasa kesepian dan teman juga tak lagi ada untuk menemani karena tentu saja masing-masing punya kesibukan masing-masing pula, maka orang yang paling memungkinkan untuk menemani kita adalah pasangan. Tentu saja, bagi mereka yang LDR, hal ini akan mustahil untuk dilakukan… Kalau dia ada di kota yang sama setidaknya bisa menemani kita ngopi atau nonton film atau apalah yang membuat kita merasa sedikit terhibur dan tak lagi merasa kesepian, atau setidaknya menjadi pendengar setia yang menyediakan telinganya dengan sukarela :)
3. Rasa rindu yang menggebu, menjadikan kita tersiksa
Ada kalanya, rasa rindu yang menjadi-jadi tak lagi bisa dihindarkan… akibatnya? Tentu saja berakibat buruk untuk emosi dan perasaan. Menguras air mata, mendadak (bagi perempuan) mellow dan galau tak karuan… Lalu, bagi laki-laki? Aduh, aku kurang tahu… tanya langsung ke orangnya aja ntar… hehe…
4. Kurangnya pemahaman tentang kondisi terkini si pasangan
Ada kalanya, karena kita tak bisa saling melihat langsung, melihat bagaimana gesture, mimik wajah, dan sebagainya, dari pasangan kita, kita tak bisa menebak apakah dia sedang dalam kondisi yang baik atau buruk, terkadang kondisi macam ini bisa memunculkan kerusuhan massal… Pasalnya adalah, kita yang di ujung telepon bercerita dengan menggebu-gebunya, tapi pasangan kita di ujung lainnya menanggapi biasa saja dan seolah-olah tak ada respon seperti yang kita harapkan. Pahit..pahit… (TT__TT)


Kebaikannya:
1. Quality Time Together

Waktu yang akan dihabiskan bersamanya adalah waktu-waktu yang sangat berkualitas.  
Kenapa? Keduanya akan saling memahami bahwa mereka terpisah oleh jarak yang jauh, makanya ketika ada waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama di tempat yang sama pula, mereka akan sangat bijak dalam mengatur waktu kebersamaannya. Tak penting harus bersama-sama di tempat yang mewah dan mahal, cukup dengan meluangkan waktu, berbagi ide, melakukan kegilaan, berbagi berkat, atau berburu objek untuk difoto bersama-sama. Pasti semuanya akan terasa menyenangkan.
Selain itu, karena adanya pemahaman bahwa waktu yang sempit ini harus digunakan sebaik-baiknya, maka tak akan ada peluang untuk konflik. Artinya, masing-masing orang sadar bahwa ini adalah saat-saat yang harus diberi penghargaan, saat-saat dimana dia bisa membahagiakan pasangannya bersama-sama dengan dia di tempat yang sama pula, maka sudah sepantasnya jika konflik atau pertengkaran dihindarkan.
·          2. Terhindar dari rasa jenuh atau bosan
Pernah nggak merasa jenuh terhadap sesuatu atau seseorang? Pasti pernah. Rasa bosan atau jenuh pada umumnya dialami pasangan yang tinggal di satu kota, kebanyakan dari mereka akan menemui satu hari dimana mereka merasa bosan dan memutuskan untuk tidak bertemu pasangannya untuk sementara, barangkali untuk mengembalikan perasaannya ke posisi netral. Hal-hal seperti ini jarang terjadi jika daam hubungan LDR, ya, tentu saja tak ada rasa bosan, karena waktu untuk bertemu sangat terbatas, maka kesempatan bersama-sama itu akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

·    3.Menumbuhkan rasa empati dan toleransi yang tinggi

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, karena tinggal di tempat yang berjauhan dan tidak bisa saling melihat langsung satu sama lain, maka pasangan-pasangan yang menjalani LDR akan semakin menguatkan rasa peduli dan empatinya pada pasangannya yang berada jauh di lain kota. Memang konflik karena kurangnya empati dan peduli ini akan selalu ada, namun dari kesalahan-kesalahan sebelumnya, biasanya masing-masing dari mereka akan belajar dari kesalahan itu dan memperbaiki sensibilitasnya – yang dengan hanya mengandalkan bantuan audio-visual dari media yang tebatas- mereka berusaha untuk mengetahui kondisi pasangannya hanya dengan mendengar nada suaranya di telepon pada saat mengobrol, mendengar intonasinya-apakah sedang marah atau ceria- ketika dia bercerita tentang sesuatu, mendengar suara bindengnya-menunjukkan dia sedang dalam kondisi pilek atau batuk, dan sebagainya. Dan hal ini akan menjadi semakin kuat dari hari ke hari.


Begitulah…
Seperti apapun kondisinya, LDR bagiku adalah sesuatu yang patut diperjuangkan, dan itu bukan sebuah kekurangan, tetapi keunikan.

Kenapa LDR? Artinya bahwa ada sebuah perasaan berharga dan mulia yang harus diperjuangkan, meski harus berjauhan, tetapi yakinlah ketika masing-masing memiliki komitmen dan rasa percaya yang bisa menutupi satu atau dua kekurangan dalam sebuah hubungan jarak jauh, maka di situlah Tuhan akan memberikan jalan.

“Seseorang di sana, dia yang di lain kota itu adalah “seseorang” yang lebih istimewa dan lebih berharga untuk diperjuangkan dan dipertahankan kedudukannya, daripada mereka yang ‘bukan siapa-siapa’ meski berada di kota yang sama.”




Jatinangor, 10 Mei 2013
INNP

Sigh~ Too tired to write



Hei, hampir dua pekan lebih aku berhenti menulis.
Mungkin bisa dikatakan, aku ini sibuk?
Raga tak kemana-mana, diam di sini, di tempat aku mengetak-ngetikkan jari jemari di papan-papan berhuruf ini...
Ragaku diam, tetapi pikiranku sudah berkelana jauh entah kemana.

Oh, Tuhan.

Perasaanku aku tak melakukan apapun kecuali kewajiban-kewajiban yang harus segera dituntaskan-akademik-
Namun pada kenyataannya, pikiran memang dengan angkuhnya mampu membawa raga larut dalam rasa lelah yang mencampuradukkan segala rasa, segala kata dan bahasa.

Aku yang berharap lebih tentang manusia, dan aku yang selalu kecewa karena manusia, dan aku sendiri dengan bodohnya menyadari bahwa aku pun manusia, yang selalu menumbuh-kembangkan harapan-harapan yang klise tentang manusia dan tirani egonya. Entahlah, manusia. 

Diary-ku kosong
Terlalu banyak rasa kesal dan kecewa yang ingin kutuangkan di sana, tetapi aku tak tega.
Mengisi lembar demi lembar dengan rasa marah dan amarah, bertegang urat hanya karena manusia.
Oh, manusia.

Diary-ku bersih
Terlalu banyak rasa perih dan rasa pahit yang ingin kucampur bersama kata demi kata di setiap alinea,
tetapi aku tak sanggup, karya tak seharusnya menjadi kambinghitam atas sebuah emosi yang terlalu meluap-luap dari penulisnya.

Ah... memuakkan!

Aku menulis karena aku harus. Itu kataku,
Kenapa, Ra?

Sederhana. 
Aku tak bisa mengingat macam segala rupa, yang aku tahu, aku punya satu cara untuk mengabadikannya dalam sejarah ingatan dan impian: menulis.

Tetapi lagi, 
aku rasa-rasanya terlalu lelah untuk menulis di antara segala keluh kesah.
Aku ingin berhenti.... (?)

Jangan, Ra.
Berhenti menulis berarti berhenti menjadi dirimu, Ra.

Mungkin saat ini tak banyak yang bisa kau sentuh lewat tulisan-tulisan konyol dan picisanmu,
tetapi kau harus tetap menulis, Ra.

Tak ada yang berhak mencegah dirimu untuk menjadi dirimu, Ra.
Jika lelah, istirahatlah. Tapi jangan berhenti, karena sekali kau berhenti menulis, kau berhenti menjadi manusia.
Kau perlahan-lahan akan berubah menjadi mayat hidup yang tinggal hidup saja,
hidup untuk menunggu mati. apa itu mamumu?

Tentu tidak, kan?

Maka, teruslah...
Menulislah...
Berkaryalah...


"Baiklah. Tapi aku butuh istirahat sejenak. Peristirahatan sementara, di antara rongga-rongga udara dalam dada, aku beristirahat sejenak."

Partner untuk seorang partner





Belakangan ini, aku sering bermimpi.
Mimpi yang mengacau, entah ke mana arah tujuannya.
Aku tak merasa pernah merekam ingatan atau menangkap fenomena macam itu dalam realita
Tetapi dalam mimpi, ternyata semuanya bisa terjadi,
Ya, semuanya… bisa terjadi…

Mimpi…
Mimpiku (baca: impian) sederhana,
Atau lebih tepatnya : kelihatan sederhana

Partnerku…
Mari kita berburu…

Hidup ini terlalu singkat, tapi bisa menjadi demikian berwarna
Jika kita bisa gunakan waktu yang singkat sebaik-baiknya, sesungguh-sungguhnya..

Mari kita berburu…
Berburu banyak pemandangan yang bisa terekam dalam ingatan,
Sampai kau tua, sampai aku tua, sampai kita tak sanggup mengingat apa-apa lagi, sampai kita mati
Sisakan ruang bagiku dalam ingatanmu, ya.

Mari kita berburu,
Aku ingin mengabadikan burung-burung gereja di atap rumahku, di tali jemuranku, di pohon belakang rumahku, bersamamu, dalam satu dua lembaran klise atau digital itu.
Kita tunggu berjam-jam sampai kita temu fokus terbaik yang bisa menunjukkan padamu mengapa aku demikian menyukai burung gereja, partnerku…
Ya, burung gereja itu berwajah sendu… representasi kesepianku, dulu.

Mari kita berburu,
Aku ingin memotret gunung-gunung sampah bersamamu, di tempat itu, tempat paling kotor di kotaku,
Kita abadikan wajah-wajah sayu, wajah seorang dua orang ibu dengan sejuta asa yang tertumpuk rapi di antara bau busuk dan pesing dan amis dan menyengat itu.

Aku ingin mendaki gunung  bersamamu, jika bisa, kita di Mahameru, tempat yang aku ingin kunjungi suatu saat nanti
Tempat dimana bunga abadi-edelweiss- dengan anggunnya bersemi, seperti sedang kedinginan tetapi mereka justru sedang saling menghangatkan.  
Begitu rapatnya kuntum demi kuntum, seolah saling berbicara :”Mari kita menghangatkan diri! Merapat, merapat, biar hangat!” begitu barangkali?
Aku ingin memotret dengan mataku, tidak dengan lensa itu, partnerku…

Aku ingin menuangkan secangkir kopi dengan krimmer buatmu, tidak dengan gula tebu, tak terlalu manis, karena kau benci dengan rasa yang terlalu berlebihan, rasa manis kau tak terlalu suka, katamu.
Tidak mengapa, kuaduk dengan setengah sendok gula saja… reguk perlahan pahitnya kopi itu, semoga lembutnya krimmer bisa menyisakan sedikit rasa manis pada lidahmu.

Aku ingin membaca buku kesukaanku bersamamu, partnerku
Katamu kau tak suka membaca, biar aku baca saja, lalu kuceritakan semuanya langsung ke telingamu.
Tak mengapa.

Aku ingin bersepeda bersamamu.
Mengayuh pedal sepeda sampai semaput, sampai kalut, berlelah-lelah dan berpeluh.
Jangan lupa, bawa handuk itu serta. Ingat, aku ini orang yang detail, partnerku.

Aku ingin bermain badminton bersamamu.
Mengibas-ngibaskan raket dan menembus net, dengan sabetan-sabetan smash dengan tenaga yang tak seberapa.
Jangan lupa, bawa botol minum itu serta. Ingat, aku ini orangnya mudah berkeringat partnerku. 

Oh iya, aku juga ingin memotret langit biru, partnerku.
Kau tahu kalau aku suka biru. 
Laut, langit, biru. Sertakan juga dandelion dalam sebuah bingkai bersama birunya langit itu, partnerku.

Aku ingin kita berjemur, berjalan, berlari, menaiki bus, turun, berjalan dan berlari lagi, semuanya semuanya semuanya kita lakukan di bawah teriknya matahari.
Aku tak takut kulitku legam, partnerku. Aku ini mencintai matahari, bukan karena ada “Ra” pada “Ira”, namaku, tetapi karena aku harus, mencintai matahari sebagai salah satu sumber daya dalam hidup ini.
Jangan lupa, bawa juga obat-obatan itu serta, kau ingat ‘kan aku punya alergi? 

Itu mimpiku…
Akan kusisakan ruang untuk mimpimu, di sini partnerku. Di dalam kepalaku.
Sampai nanti, dalam mimpi, dalam dunia masa depan yang kita tak akan pernah ketahui kapan dan dimana lagi kita akan bertemu dan hidup dan menghidupi segala yang perlu dihidupi dalam hidup dan kehidupan ini.

.fin.

Voila! And all of sudden, we become so religious!





Voila! And all of sudden, we become so religious!

Hm, yah…
Ini cerita hanya seadanya saja
Boleh bilang saya gila atau apa,
Tapi ini cerita saya, seadanya, sebenar-benarnya.
Saya ini seorang yang diam yang hanya berani mengamati dan mengomentari realita-realita tertentu
Dari balik kacamata minus saya yang tak terlalu tebal ini.
Ya, saya diam dan mengamati sebagai seorang “Ra”.
Bukan dewa atau apa, hanya seorang “Ra”. Manusia biasa.
Well…
Kadang saya bingung melihat pola-pola yang diciptakan manusia
Tertata rapi, tetapi tetap saja kesannya berantakan
Entah ya, begitu pandangan saya
Saya,
ya, saya akui, bukanlah seorang yang demikian fanatik terhadap keberagamaan saya
saya suka keberagamaan saya, dan saya hidup dalam keberagaman.
Saya beragama, namun yang terpenting  bagi saya adalah keber-Tuhan-an saya.

Tetapi, entah kenapa, dan entah berdasarkan standar apa,
Rasa-rasanya saya bukanlah “seorang yang taat”
Yah, segala yang sekuler dan benar-benar duniawi mungkin melekat pada diri saya
Tetapi saya masih punya keyakinan terhadap Satu-yang lebih krusial dan esensial -: TUHAN

Pandangan “merendahkan” dan omong kosong yang “meninggikan” seringkali menjadi kudapan
Kudapan di hari petang, pagi atau malam
Kudapan yang saya comot tiap kali saya mulai merasa muak dengan segala fanatisme yang dihambur-hamburkan ke udara
Atau langsung dibisikkan ke telinga-telinga

Mereka –yang katanya religius itu- bilang saya ini antipati, apatis, sinis, sentimen, dan bla bla blah!
Hm… antipati, sentimen, apatis; mungkin ya, tapi tidak dengan sinis.
Saya tak pernah ada niat untuk menjelekkan sesuatu yang “visual”nya memang sudah sangat bagus dan rapih, bersih, suci, kudus, dan sebagai-bagainya itu.
Saya cenderung meragukannya. Hahaha,  maaf. (Ups!)

Well, yah…
Seperti kata orang tua saya; “yang banyak tahu itu biasanya malah banyak lupanya”

Ya, tahu tentang perintah Tuhannya, tetapi juga banyak lupanya.
Tahu tentang kehendak Tuhannya, tetapi juga banyak khilafnya.
Saya tidak benar, demikian juga kamu.
Saya salah, demikian juga kamu.
Setahu saya, keselamatan itu anugerah, dan pengampunan itu juga karunia.
Kita terpilih dan dipilih, bukan memilih.


Sudah terlalu banyak penghakiman-penghakiman dadakan yang manusia ciptakan

Kekhilafan dan kesalahan dengan serta merta membuat “kepongahan rohani” kita membuncah
Seolah kita semua tak punya catatan hitam
Seolah kita semua tak pernah melalui jalan kelam
Cih!

Boleh mereka bilang ini semua rangkuman dari sebuah pembenaran.
Tetapi nyatanya bukan demikian, saya tidak sedang membenar-salahkan apapun dan siapapun.
Saya hanya berkomentar. Tentang apa yang normal dan wajar.
Itu saja.

Saya menyaluti ingatan mereka tentang segala jenis ayat dan pasal-pasal dalam sebuah Kitab Suci
Bahkan ada yang dengan bijaksananya merapalkan kata per kata ibarat mantera
Sungguh, luar biasa!
Saya jauh dari itu.
Saya tak banyak hafal,

Dan saya tak banyak menggarisbawahi-mewarnai-membatasi-mencatat-mengutip satu per satu ayat yang saya rasa mengena dalam hati

Saya tak menganggapnya sebagai anestesi
Bius dikala kita merasa sakit dan ringkih dan lemah dan atau apalah namanya!
Tetapi, saya berkontemplasi
Belajar satu hal dari Tuhan saya yang petunjuk-Nya dirangkum dalam Kitab Suci agama yang saya yakini: KASIH

Atas nama selebrasi dan seremoni dalam sebuah religi
Terkadang kita terlalu mengedepankan visualisasi, tetapi kerap mengabaikan implementasi dan aplikasi
Sesuatu yang riil, bukan hanya sekedar abstraksi dari sejumput substansi
Mereka yang mengklaim dirinya “religius yang rohani sekali”
Dengan mudahnya menjadi tamak dan rakus ketika berurusan dengan materi
Padahal jelas dikatakan, 
Oke, dengan segala keterbatasan, saya mencoba mengutip surat  Ibrani 13 pada ayat ke-5 :
Dikatakan bahwa “janganlah kamu menjadi hamba uang…
Lalu, mengapa kita demikian getolnya mengejar materi dan harta dan mengejar kaya? Jaminan bahagia di hari tua? Untuk memenuhi segala bea - biaya?
Benar(kah?)

Lagi, perkara yang satu ini memang sedikit menampar saya.
Ingatkah kita ketika Isa lahir ke dunia?
Hei, Dia lahir bukan di hotel berbintang lima,
Bukan di rumah sakit ternama,
Bukan pula di sebuah rumah yang luasnya bak istana.
DIA itu lahirnya di kandang domba! Iya, KANDANG DOMBA!
Tempat yang terlalu hina untuk menampung kelahiran Raja Semesta.

Lalu, ada apa dengan kita?

Selepas ibadah di gereja, kita yang tadinya bersikap (sok) religius dengan duduk manis mendengarkan ceramah dan khotbah
Yang tadinya bersikap (sok) suci dan kudus untuk tidak memproduksi dosa dengan mengekang mulut dan lidah
Mendadak menjadi gila karena benda-benda dunia!
Sikap hedonisme yang meluap-luap itu tiba-tiba menghampiri
Umpama seorang yang sedang berahi
Kita berkontraksi dan melepas-liarkan energi pada materi
Dengan serta merta kita menjadi binatang-binatang yang haus akan Prada, Channel, Hermes, dan Gucci
Membuang-buang uang, waktu, tenaga dan energi
Hanya untuk kepuasan diri sendiri

Kepuasan batin yang dipuaskan karena sebuah alasan –yang bagi saya klise sekali- : menghilangkan jenuh dan tekanan
Saya justru lebih merasa tertekan ketika melihat price-tag yang lengket di benda-benda mahal itu
Wuih…

Untuk bagian ini, mungkin saya akan dikritisi, “Uang itu uang saya, saya mau beli apa ya terserah saya, kenapa Anda yang sewot?”
Kalau sudah menuai jawaban seperti ini, saya hanya menaruh rasa empati dan iba: “Kasihan Anda ini, bahagialah ketika ada Prada dan Gucci di lemari, setelah semuanya terpenuhi, maka Anda kembali lagi pada lingkaran setan yang tak pernah berhenti. Kebahagiaan yang murah, bisa diukur dari total tagihan billing yang dikirim ke rumah setiap bulan.”

Mengapa?
Ya, seperti yang kita tahu… Perancang-perancang di Eropa sana kan tak pernah berhenti berkreasi dan berinovasi.
Musim berganti, model, bentuk, dan warna berganti. Tetapi tidak dengan fungsi.
Fungsi, ya toh akan tetap sama. Apa sih  fungsi utama dari tas, baju dan sepatu?

Barangkali saya akan berpikir dan bergiat menabung untuk membeli, jika suatu hari nanti ada tas yang di dalamnya bisa menyimpan rumah, yang memudahkan akomodasi saya ketika berpergian ke luar kota.
Siapa tahu… :p

Untuk hedonisme ini, saya hanya teringat pesan Isa dalam Doa yang diajarkan-Nya, Doa Bapa Kami.
Saya mengutip sepenggal kalimat di dalamnya: 

“…berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang SECUKUPNYA…”

Secukupnya lho, s-e-c-u-k-u-p-n-y-a.
Bukan “selebihnya”, “berlebihan”, “sebanyak-banyaknya”, “semahal-mahalnya”.
Saya selalu merasa tersentuh dengan kata “secukupnya” ini.

Ya, pemahaman saya, yang Ia mau agar kita itu jadi orang-orang yang “tercukupi”, “dicukupi”. Bukan pula “cukup-cukupan” alias “pas-pasan”.
Cukup itu… tidak lebih dan tidak kurang. Balance, gitu.

Ya, ini hanya pandangan pribadi dari seorang anak manusia yang katanya tidak religius dan tidak gerejawi ini.
Dari segala isi Kitab Suci, saya paling ingat kata ini : KASIH.

Ya, “kasih” itu bisa meliputi segala kebaikan dan sifatnya yang esensial sekali.
Barangkali kita sudah lupa bagian terpenting ini.

Ketika hanya karena harta kita harus membenci dan memerangi saudara kita, apa iya kita masih punya KASIH?

Ketika hanya karena ingin memuaskan nafsu hedonis kita, kita harus menghamburkan uang dan tenaga untuk hal yang tidak primer, sementara di luaran sana ada banyak anak-anak yang sekolah tanpa kasut, bersekolah dengan plastik kresek yang membalut buku-buku butut, anak-anak yang tidur di bawah kolong langit tanpa atap rumah dan tanpa selimut. Apa iya kita masih punya KASIH?

Ketika hanya karena fanatisme yang berlebihan terhadap religi, kita harus mengorbankan harga diri orang lain dengan memberikan penghakiman-penghakiman yang egoistis dan menelanjangi dirinya tanpa ampun, dan mengatasnamakan sebuah justifikasi yang terkesan basi. Apa iya kita masih punya KASIH?
Apa iya?

Saya introspeksi diri saya, demikian juga Anda.
Semoga kita bisa menghidupkan dan menghidupi lagi “kasih” yang sebenar-benarnya.
Kecintaan terhadap religi itu perlu, tetapi lebih perlu lagi kecintaan terhadap TUHAN, sumber dari segala kehidupan.
Fanatisme itu tak perlu dipaksakan, fanatisme itu bisa disimpan di sini, dalam hati.
Bersaksilah pada diri sendiri bahwa kita akan menjadi manusia-manusia sejati yang tak berniat untuk ber(r)evolusi menjadi binatang yang tadinya bersimpati, mendadak lalu berang dan saling menyerang.
Berjanjilah pada diri sendiri, dengan apa yang Tuhan berikan, kita menjadi manusia-manusia yang mulia, dan mempermuliakan Dia, hanya Dia –Alpha dan Omega- sampai nanti, sampai mati.

Jatinangor, November 19th , 2012.
12:40 AM ; dalam keadaan mabuk kafein dan sekian potong martabak yang mulai dingin.

basi!





Sembilan lima belas, waktu Indonesia bagian barat.

Malam tadi aku banyak bermimpi

Bermimpi tentang mimpi yang dimimpikan oleh seorang pemimpi kelas teri; aku

Sekilas telingaku berdengung karena tanya demi tanya yang masih belum terjawab sampai kini, detik ini
Mencoba membobol gendang telinga, menggedor berkali-kali dan tanpa henti
Menuntut seseorang atau sesuatu dari hati untuk segera menjawab dan menyahuti
Meski aku sendiri tak tahu pasti, kapan semua mimpi bisa jadi nyata, 
senyata rasa nyeri yang kadang masih menggegerogoti kepala yang sebundar ini

Apa yang dilakukan seseorang di belakang layar?
Banyak.
Menenggak kafein bersama sebatang nikotin
Atau kafein yang dikawini oleh dopamine,
Hanya bila ingin segera bertemu pendahulunya di sana: surga atau neraka

Kontemplasi malam tadi berbuah sesuatu, tampaknya
Menyanjung-pujikan keikhlasan hati dalam berbuat dan melakukan
Tanpa iming-iming ini atau itu

Namun ketika kita menjejak kaki di ambang batas, masihkah kita menjadi “manusia”?
Hati ingin memberi, tetapi dunia menolak.
Kaki ingin melangkah, tetapi jalanan telah memagari dirinya dengan kawat-kawat berduri
Tangan ingin menolong, tetapi manusia telah lebih dulu membiarkan dirinya tenggelam dalam keotomatisan dunia yang katanya serba instan ini
Telinga ingin mendengar, tetapi ternyata mulut-mulut yang terkatup telah terlalu lelah berbicara lewat urat-urat halus berwarna warni
Hanya menyisakan kesenyapan yang memuakkan
Menihilkan siluet diri
Bahkan bayangan pun tak lagi diakui
Dan pengakuan untuk sebuah eksistensi hanyalah tingaal segenggam basa basi
Yang memang benar-benar basi.
Basi!