"Cermin"



Cahaya keemasan datang perlahan 
Di antara celah-celah tirai berenda
Seorang wanita dengan kantung mata
Hitam, legam, didapat setelah lelah diam dalam kekosongan

Pertikaian sengit antara rasa dan logika
Pertikaian dengan hati sebagai medan perangnya
Siapa beroleh menang?
Tak ada.

Karena selalu saja pertikaian itu terhenti di satu titik: "kejenuhan".

Cahaya keemasan datang perlahan
Senja hari itu terasa lebih tak sopan
Menampar pipinya, kiri dan kanan
Panas terasa dalam rongga udara, rongga nafasnya
Disapukannya tangan ke sebuah cermin di sisi jendela
Sambil bertanya pelan, "Apa kabar, Ra?"



23.10.13

Kepada: Masa Lalu.





Masa laluku, masa lalumu…
Apa yang kita ketahui tentang masa lalu?
Ada yang datang menghampiri seperti seorang sahabat dekat,
Ada pula yang menyergap seperti bala tentara musuh yg siap membantai sekali sikat.
Masa lalu…
Ada haru, ada rindu, ada cinta, ada luka, ada manis, ada pahit, ada perih, ada elegi, ada romansa
Semuanya pernah terjadi di sana
Ingatan yang membawa kita pada petualangan luka penuh trauma,
Atau membawa kita pada perjalanan manis penuh tawa.

Masa lalu…
Dulu pernah ada kata rindu,
Dulu pernah ada tanya “apa kabar” dan segala sapa di dalamnya
Dulu pernah ada kata tanya “dimana”, “kapan”, “siapa”, dan “kenapa” di dalamnya
Dulu…
Di masa lalu

Masa lalu,
Bisakah kita kibarkan bendera putih hari ini?
Kita berdamai, berteman, mungkin tak bersahabat, cukup untuk saling mengerti bahwa kita tak lagi bisa terus seperti ini.
Berilah aku ruang dan waktu untuk bergerak maju pada kekinian dan masa depanku

Masa lalu,
Bisakah kita duduk diam dalam tenang sambil meneguk secangkir teh di beranda hatiku?
Kita bercengkrama, kita tertawa, bercerita tentang segala kejadian dan peristiwa yang mengaduk hati, menguras air mata bahkan membuat perut mulas karena tawa yang membahana.
Berilah aku maaf jika memang aku pernah membuat kesalahan pada relung waktumu

Masa lalu,
Aku tak pernah meniadakanmu, kau selalu terselip di antara mimpi dan bangunku,
Tapi kumohon, jangan tampakkan dirimu dalam rupa murka angkara,
Hadirlah sebagai putih-putih kelopak bunga yang beraroma vanilla,

Masa lalu,
Teman sekaligus musuh dalam satu waktu…
Mari, berdamailah denganku.

Salam hangat, 
Masa kini-mu.

Si Perasa itu Disebut "Wanita"



Rumuskan segala rasa dalam sebaris atau lebih formula demi formula,
Coretkan angka demi angka dengan tanda-tanda matematis di antaranya,
Namun tetap, kau takkan temu rasa di sana.
Apa yg kau dapat hanyalah sejumput rasa hambar, tak bernyawa, tak menghangatkan, karena kau bukan sedang meretas makna menjadi rasa, atau sebaliknya...
Kau hanya sedang "merumuskan" rasa, yg tentu tak mungkin ada ramuan pastinya.
Selamat mencoba.

***

Jika aku gagal membuat perhitungan pasti tentang isi hati,
Itu karena aku memang bukan ahli ilmu pasti.
Jika aku gagal membedah segala rongga paru-paru yg mengembuskan nafas cinta ke udara,
Itu karena aku memang bukan seorang ahli bedah yang ternama.
Jika aku gagal menghubungkan koneksi hati dengan media yang mengantarainya,
Itu karena aku memang bukan seorang teknisi.

Aku bukan siapa-siapa, kekasihku.
Aku ini cuma si perasa yang mungkin terlihat dungu,
Aku hanya mengerti bahasa yang dibahasakan hati lewat kata-kata dan aksara yang meretas menjadi makna

Aku bukan siapa-siapa, kekasihku.
Aku ini cuma si perasa yang mungkin awam terhadap segala kepastian,
Aku hanya sadar bahwa kita hanya terombang-ambing dalam raga yang fana,
hidup dalam ketiadaan dan ketidakpastian.
Aku hanya menikmati tiap detik untuk merasa, memaknai, dan memahami segala afeksi.

Aku bukan siapa-siapa,
Aku hanya seorang perasa.
Aku hanyalah seorang "Wanita" (?)

Aku: Titik dan Daun Kering





Sesungguhnya ya Tuhan, aku tak pernah meminta segala hal yang menyulitkan, menyakitkan, atau mencelakakan sekalipun terjadi pada diriku… itu yang terbaik MENURUTKU.

Egoku dalam setiap doa membuat rapalan doa menjadi hambar, tak lagi harum sesuai ingin-Mu, dan apa yang kumintakan bukan apa yang kubutuhkan, tetapi apa yang kuinginkan.
Aku bersembunyi dibalik topeng kepura-puraan. Berpura-pura dengan kesadaranku dalam memaknai kehidupan yang Kau beri dengan cuma-cuma ini.

Sesungguhnya ya Tuhan, aku mengetahui bahwa Kau tahu apa yang paling aku perlu, Kau mengijinkan segala kesulitan, kesusahan, kesakitan, atau apa yang kusebut bencana sekalipun terjadi atas diriku itu karena Kau mengerti betul bahwa semuanya itu akan membuatku menjadi lebih tahan uji, itu MENURUTMU.
...
Aku ini ibarat titik, ya Tuhan. Debu pun aku tak sampai. Hanya setitik renik yang terabaikan. Terlalu hina dan fana jika ku bandingkan diriku kepada alam semesta Maha Karya-Mu ini, ya Tuhan. 

Aku ini ibarat daun kering, ya Tuhan. Bunga pun aku tak sampai. Hanya sehelai daun yang jatuh dari pohon yang meranggas. Terlalu ringkih dan rapuh jika kusejajarkan diriku dengan jagad raya Karya-Mu ini, ya Tuhan.

Tapi Tuhan, titik pun aku, kiranya perkenankanlah aku berada dalam satu stanza, dimana aku bisa menempatkan diriku dengan apik dan baik di sana, menjadi bagian paling akhir dari sebuah syair indah hasil gubahan-Mu, Bapa. Kiranya aku menjadi titik yang berguna dan berdayaguna, tak tersia-sia dalam hingar bingar jagad raya. 

Tapi Tuhan, daun kering pun aku, kiranya Kau perkenankan aku terbawa angin hendak-Mu untuk kemudian jatuh dan mendarat di sebuah taman asri yang Kau tata sendiri, jatuh di antara bunga-bunga indah kepunyaan-Mu untuk kemudian aku membusuk dan menjadi pupuk. Memberi faedah bagi bunga-bunga indah kepunyaan-Mu, Bapa. Kiranya aku pun menjadi daun kering yang berguna dan berdayaguna, tak tersia-sia dalam karut marut semesta. 

Aku ini bukanlah sesiapa, Tuhan. Terlalu berani aku meminta kepada-Mu. 
Terlalu lancang aku memohon pada-Mu. 

Seketika aku mengingat sabda-Mu dalam barisan ayat-ayat Injil-Mu. 
Kau yang berkuasa dan berada dalam segala kedigdayaan-Mu menyebutku mulia dan serupa dengan-Mu, ya Tuhan.

Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau mengasihiku sedemikian rupa, menembus batas keIlahian-Mu untuk setara dengan manusia yang hina.
Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau menunjukkan bulat hati-Mu mengambilku dari jerat maut, salib itu Kau jadikan bagian-Mu.
Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau senantiasa setia sepenuh hati-Mu di atas ketidaksetiaan dan pengkhianatanku pada-Mu.
Lalu aku? Apa yang sudah kuberi untukMu?
Tak ada.
Mestinya aku memberi segala cinta daya upaya karya dan karsa, tapi aku belum berbuat apa-apa.

Dalam kerendahan dan ketiadaanku, aku mengaku ya Tuhan. 
Bagian-Mu lah yang memenuhi kekosonganku agar kiranya kepenuhan-Mu menjadi bagianku. 

Berkenankah Kau, Tuhan?

Ya Tuhan, raga dan jiwa kiranya aku persembahkan sebagai bagian yang harus sepenuhnya menjadi kepunyaan Kerajaan-Mu di nirwana.

Tak bolehlah aku meminta-paksa, kupinjam dan kupakai tanpa maksud dan tujuan yang berguna di dunia, di tempat dimana aku Kau titipkan, sementara. 

Ya Tuhan, ijinkan aku meminjam raga ini sampai batas waktu yang Kau kehendaki.
Ajarilah aku untuk menggunakan dan merawatnya sedemikian baik, agar kelak ketika Kau memanggilku pulang, raga ini pun masih dalam keadaan yang Kau kehendaki.

Ya Tuhan, dalam kelemahan ragawi, kiranya jiwaku tetap hidup dan menjadi bagian yang paling indah yang bisa kupersembahkan untukMu kini dan nanti.

Tak ada alasan bagiku lagi untuk tak berucap “terima kasih, Tuhan”.
Atas segala susah dan senang…
Atas segala keberadaan dan ketiadaan…
Atas segala sehat dan sakit…
Atas segala tawa dan air mata…
Atas segala hidup dan nanti mati…
“Terima kasih, Tuhan.”


Eleg-"i"




Tasteless.

Kadang hanya menghidupi hidup seadanya...
Ambisi tentang segala macam pencapaianlah yang membawaku kemari.
Boleh kusebut begitu?

Atau, dengan navigasi dari semesta,
Setiba aku di sini, Dia sengaja membuatku demikian...
Ah, demikianlah.

Tak cukup puas aku bertanya dengan kata-kata dan bahasa,
Raga dan jiwaku kini turut mempertanyakan segalanya.
Apalah arti cinta?
Apalah arti nyawa?
Apalah artinya... segala teka teki yang seolah aku bangun sendiri, lalu sesat di dalamnya, lalu tersudut di salah satu labirin teka teki itu, lalu terdiam, hilang, hilang, dan hilang...

Mimpiku sederhana, tapi jalan menuju ke sana tak sesederhana mimpi itu sendiri.


Mimpi.
Ambisi.
Afeksi.

Apalah arti semua ini.


“Memorabilia : sebuah dekade untuk bertiga”



“Memorabilia : sebuah dekade untuk bertiga”

14 September 2012 at 12:43
Happy 10th anniversary buat kita, Wakbin, Nyak, Mbek. (^_^)

Wow, satu dasawarsa, bukanlah waktu yang singkat, teman…
Unit waktu sepuluh tahun yang kita jalani bersama-sama membuktikan bahwa kita telah, sedang dan akan terus diikat dalam kasih persahabatan yang menjanjikan kebersamaan, kehangatan, keceriaan, atau bahkan kegilaan di sela-sela lembaran hidup kita yang padat dan sesak oleh hiruk pikuk dunia.

Aku pernah bermimpi, satu kali aku ingin menulis, uhm, sebenar-benarnya menulis, tentang persahabatan kita. Aku tak peduli, berapa dekade yang sudah mereka habiskan untuk pertemanan mereka, tapi aku tetap merasa bangga, yaaa, ini satu dekade milik kita! \(^_^)/~yeii

Long way to go, teman…
Persahabatan itu tidak diukur dari perhitungan angka-angka belaka, tapi itu lebih kepada emosi, dan adanya di sini, di dalam hati. Bagaimana kita bisa saling berusaha untuk mengerti, memahami, dan saling berempati.
Saat satu di antara kita butuh teman untuk mendengarkan, kita menyediakan dua pasang telinga untuk mendengarkan.
Saat satu di antara kita butuh teman unuk menguatkan, kita menyediakan dua pasang tangan untuk menolong dan mendoakan.
Itu seninya berteman, bukan?
Hei, aku mau cerita, mungkin tak banyak,  sedikit tentang kalian, dan tentang apa saja yang sudah kita lalui bersama-sama…

  • Herdina Debyarta Saragih a.k.a. “Dina” (September 30th, 1987)
Aku sering panggil dia Dince, ato Nyak. Nama kecilnya “Deby”, tapi bagiku nama kecil itu kurang pas melekat di dia, terlalu “ayu”, gak kayak aslinya, whuakakakaka… (ga aci marah yaaaaa Nyak.. :p)
Dia ini si icebreaker kami… Saat yang lain mulai merasa suntuk, ada aja caranya buat bikin suasana hidup lagi. Caranya? Gila, entah itu dengan mengajak kami berlari-lari liar di bawah hujan, atau dengan mengajak  nyanyi teriak-teriakan di karaoke keluarga. Tiap kali aku ingatkan, “Din, pelan2 suaranyaaaaa! Yang lain terganggu!!”, spontan si gila satu ini jawab (dengan dialek Medan kentalnya), “Ah, mati dia sana! Peduli kali!”.

Soal romansa, bisa dibilang dia udah banyak makan asam garam makanya jadi asin gitu.. :p
Biasanya aku dan Tuty buka sesi konsultasi curahan hati sama beliau ini, bisa dibilang, dia sokoguru buat urusan cinta-cintaan, whueeeekekekeke… Sokoguru? Widdiiii…
Dina itu orangnya supel, supelmen, supelwoman, supelboy, pokoknya segala yang supel lah… Mudah bergaul sama siapa aja, termasuk orang yang tak dikenal (awas dihipnosis kw Nyak!) J
Bisa jadi, dia ini satu2nya manusia sanguin di antara kita bertiga.

  • Astuty Febriani Bintang a.k.a. “Wakbin” (February 24th, 1988)
Ini dia si makhluk plegmatik. Si bungsu yang paling cuek yang ngga pernah mau ambil pusing tentang apa pun yang terjadi di sekitarnya, dia bakal cuma tertarik tentang satu hal : Komik Serial Detektif Conan (yang aku ngga tau udah berapa banyak duit yang dia habiskan untuk melengkapi koleksi komiknya ini… ckckckck..)
Ingat tentang “godok godok” pasti ingat tentang Wakbin. Alasannya? Ah, tanpa alasan, ntar otomatis juga tau sendiri kenapa gitu… hihihi…
Paling anti sama yang namanya urusan hati atau romansa, aku dan Dina selalu gagal untuk jadi comblangnya, ckckck… kami sebagai temanmu merasa gagal, Bin! (*menangis pilu~~ (TT___TT)
Dibalik sifat cueknya, ternyata dia ini punya apresiasi yang tinggi terhadap hasil karya orang lain. Kalo udah suka sama sesuatu atau seseorang, tanpa ba bi bu dia bisa kasih pujian yang bener-bener tulus dan ikhlas fresh dari hatinya yang paling dalaaaaaaammm. Begitulah… J

  • Ira Natasha Naomi Purba a.k.a. “Mbek” (January 10th, 1987)
Nah, yang ini bisa ditebak lah. Pelengkap suasana… hehehe… si melankolik yang malu-malu dan mendayu-dayu. Halah!
Paling pendiam di antara dua orang tadi, tapi kalo gilanya keluar ya tetap aja jadi gila juga. (Mau gimana lagi, berteman ama dua orang gila sih.. :p)
Paling ga suka sama yang namanya kebisingan, makanya hidupnya cenderung monoton.
Kalo udah kepikiran sesuatu, mukanya berubah otomatis jadi cemberut kayak marmut. Kalo udah mencemaskan sesuatu, reflex mukanya merah karena panik. Kepanikan itu seringkali jadi kenikmatan tersendiri buat Dina dan Wakbin untuk mengusilinya, lagi dan lagi. Hahahaha… memang, dua teman itu niatnya ga bener banget deh.. ckckck..
Lebih suka mendengar daripada bicara, tapi akhir-akhir ini juga kayaknya mulai banyak berkomentar deh. Ga tau kenapa, efek pemanasan global, barangkali…? :D
Ingatannya tentang masa lalu gak terlalu baik, jadi sering dapat bantuan stimulus dari kedua temannya ini. Maklum, udah tuwir.
                                                                                                ***

Pengalaman-pengalaman yang pernah kita lewati bertiga itu ada beberapa yang ngena di ingatan, aku bisa kasih beberapa cerita singkatnya di sini:

#1 Let’s soaking under the made up-rain
Pernah satu kali, aku dan Wakbin main ke rumah Dince… waktu itu masih SMA, tepatnya kelas berapa aku lupa sih… cuaca hari itu agak mendung, ga tau kenapa kita tetap aja gas pol menuju rumah Dina, ya udah jelas niatnya mau apa kan? Mau main laaa~h… :D
Jderrr! Hujan pun turun dengan isengnya… mengganggu waktu bermain kami di luar ruangan. Tapi ya, situasi yang gimanapun bisa aja dijadikan kenangan, emang udah niat main di luar, akhirnya kami memutuskan untuk tetap main di bawah hujan… ga disangka, ternyata hujannya tak lama, alhasil basahnya kita juga nanggung, hahaha…
Ya udah, barangkali waktu itu kami kepikiran pepatah “kalau sudah kepalang basah, sekaligus sajalah mandi”. Maka, sang Dina pun mengambil selang, dan “Crrroooooootttt!!!!!” air menyemprot badanku dan tuty. Selamat. Basah sampe ke dalam-dalamnya. Gila! Hujan berhenti tak masalah, Dina menghadirkan hujan buatan di rumahnya. Terima kasih klinik TongPang, semenjak berobat ke sana, teman kami Dina jadi semakin gila. J

#2 Hide and Seek, Mbek!
Ini keisengan paling mengesalkan, kebetulan aku korbannya. Ini semua gara-gara keteledoranku… sesaat sesudah ganti baju olahraga ke baju seragam di kamar mandi, aku lupa masang balik jam tanganku (yang kebetulan waktu itu masih baru, dibelikan oleh ayah ibuku, halah!).
Aku lupa letakinnya dimana… dengan antengnya masuk kelas tanpa sadar kalo pergelangan tangan kiriku tak dilekati jam tangan. Sesampenya di kelas, aku teringat dan otomatis berubah jadi panic! Yihaaaa! Panic at the classroom. Buru-buru permisi ke guru minta ijin ke kamar mandi buat nyari tuuh jam tangan.
Di cari, dicari, …. 5 menit…10 menit… 1 jam… 1 tahun… 8 tahun kemudiaaaan (lebay!) aku tak menemukan jam sialan itu! Kemana diaaaa???
Dengan wajah panik dan mutung, aku balik ke kelas, dan entah kenapa aku melihat keanehan di wajah manusia dedemit itu berdua. Tuty yang ketawa cekikikan di depanku, dan Dina yang pura-pura longor* (pura-pura o’on) di bangku belakang mulai menunjukkan tanda-tanda akhir jaman, eh, tanda-tanda mencurigakan… aku kesal, aku kan lagi kebingungan, panikan, kenapa dua manusia ini ketawa ketiwi?
Ternyata, oh, ternyataaaa! Tuty menyimpan itu jam tangan di dia, dang a ngomongin ke aku sampe hampir bubar jam sekolah. Dari pengakuannya sih, dia katanya ngga bakal ngasih itu jam sampe besoknya, Cuma gara-gara aku niat laporin kehilangan jam ini ke wakil kepala sekolah, lalu lalu lalu Tuty pun panik, wakakakaa, buru-buru dia nyamperin sambil nyodorin itu jam ke aku.
What the hell???!! Mereka menikmati wajah panikku? Oh Tuhan, teman macam apa yang Kau hibahkan padaku ini…
Yah, trus mereka dengan sok bijaksananya bilang “makanya Mbek, lain kali jangan lalai… Diingat barang-barangmu di taro dimana…”
Demikianlah, pelajaran hari itu. Makasih ya Woooy.. (ga ikhlas juga, :p)

#3 dan seterusnya… ada banyaaaaaaaaaaaakkkk lagi. Eike capek, mau makan siang dulu a~h.
Hehehe…
                                                                                               ***
Demikanlah.
Semoga persahabatan itu ngga berhenti sampai di sepuluh tahun ini, semoga sampai dua puluh tahun lagi, sampai nanti, sampai abadi.

Sampe kita jadi tante-tante sukses dengan tas tintingnya masing-masing,
jadi tante-tante yang mulai direpotkan soal urusan pernikahan,
sampe jadi ibu-ibu yang gendong anaknya masing-masing dan direpotkan dengan urusan diaper dan bla bla bla segala macam, ngga sengaja ketemu di pasar, terus sok-sok menjanjikan anaknya untuk dijodohkan,
atau jadi ibu-ibu rumpi yang heboh kalo ketemu di mall (seolah2 itu mall milik kakek moyangnya),
sampe jadi nenek-nenek yang mulai membahas jumlah uban di kepalanya,
sampe jadi nenek-nenek yang rempong nanyain cat rambut merk apa yang paling bikin hitam,
sampe akhirnya kita terpisah karena usia dan waktu yang tak lagi berpihak pada kita… (T_T)

Kenanglah ini semua, teman.

Terima kasih kalian ada sebagai pengingat bahwa aku tak sendirian, demikian pula aku ada dan mengingatkan bahwa kalian tak sendirian.

Terima kasih untuk kebersamaan, tawa, tangis, ceria, susah, senang, usil, jahil, cerewet, ngambek, dan semua emosi yang terkuras selama 10 tahun ini.

Dalam jarak dan ruang yang berbeda, semoga kita tetap saling mengingat dan tetap saling mendoakan untuk satu dan yang lainnya.

“Care for each other, pray for each other”
Kita bukanlah sahabat yang bertemu dan berlalu begitu saja, kita adalah sahabat yang dipertemukan, disatukan dan akan terus dieratkan oleh kasih dari Tuhan.
Perbedaan bukan halangan, karena toh perbedaan yang membuat kita menjadi lebih paham artinya persahabatan.
Again, HAPPY 10th ANNIVERSARY (September 14th 2002 - September 14th 2012)

With love,
(^_^) ~ INNP

"As a stranger, not much..."



Di antara rasa benci dan rasa suka, ada satu rasa lagi,
"Rasa biasa".
Bisa kan, kamu bayangkan?

Aku tak membenci, tapi tak juga menyukai.
Jadi, biasa saja, seperti orang asing yang bertemu dalam gelombang langkah kaki ribuan manusia di sebuah jalan asing dan terasing.
Pagi tadi aku mendapati diriku berubah, untuk sebuah alasan.
Aku bercermin, tapi tak menatap sesiapa pun di sana.
Miris... kemana diriku yang dulu?
Yang biasa hangat, seperti tuangan pertama dalam cangkir kopi keramik
yang disajikan di atas tatakan putih yang mulai menguning karena kafein.
Kepada yang terdekat, kepada yang terkasih...
...
Di antara rasa benci dan rasa suka, ada satu rasa lagi,
"Rasa biasa".

 Pagi tadi aku bicara, membatin pada diri sendiri
Tragis... apa yang telah memakan hatiku?
Aku, yang biasanya kasih, seperti sekaan seorang ibu di pipi anak perempuannya,
yang menunjukkan halus dan kasihnya yang terwakilkan lewat seusap usapan tangannya.
....
Di antara rasa benci dan rasa suka, ada satu rasa lagi,
"Rasa biasa".
Demikianlah kini aku, kau, dan kita.
Kita terlalu lelah dimakan kenyataan

Aku, sesungguhnya tak ingin berubah
Tak akan kuijinkan apa atau siapa pun mengklaim hati kepunyaanku, tak akan!
Ini hatiku, milikku satu-satunya
Tak akan kuserahkan pada kejamnya kenyataan, busuknya kedengkian, pahitnya kebencian, atau panasnya amarah.
Tak akan...

Percayalah,
Di sela-sela kebekuan ini, kedua tangan masih ingin menjabat,
Menuangkan rasa baru kepada hati agar bisa menghangat
Namun, ijinkanlah kiranya saat ini
Aku beristirahat sejenak dari hiruk pikuk ini
Aku ingin mencari jalan kembali kepada kemurnian hati
Seandainya kau inginkan aku kembali,
Tunggulah, nanti.

Aku tak membenci, tapi tak juga menyukai.
Tak lebih, tak kurang.
Di antara rasa benci dan rasa suka, ada satu rasa lagi,
"Rasa biasa".
Demikianlah kiranya kita saat ini, sampai nanti.


Jatinangor,
27 Juni '13
Kamis dengan tekanan tinggi,
dengan lambung yang seperti ingin meledak,
12:06 WIB