Ah! Maaf, aku mau muntah!



Been a year since I did my 1st step, God.
Kuakui proses ini sangat amat tidak menyenangkan; digembleng, dicobai, diuji, diabaikan, dinomor-sekiankan, didiamkan.

Kuakui, aku sudah mulai merasa lelah; dalam segala ketidakpastian aku harus belajar menunggu dgn sabar, belajar menyalakan api semangat agar tak pernah padam, belajar mengoreksi karakter diri sendiri, belajar utk terus berjuang dan berusaha, belajar untuk melebur dgn gelombang2 manusia sekitar.

Tapi agaknya, rasa takut itu mulai membebani. Pikiran mulai terbagi sekian. Bicara ttg pencapaian-pencapaian.

Aku mulai capek... Maaf jika aku masih terlalu dangkal utk menyelami kolam sedalam ini. Maaf jika aku masih terlalu bodoh utk berusaha menjadi sepintar itu.

Tapi, Tuhan mengajarkan aku utk tidak menyerah. Satu hal yg kuyakini;
"Dia yg mengantarkanku sampai sejauh ini, Dia pula lah yg akan memampukan aku utk mengakhiri dengan indah, pada waktu-Nya."

Dalam hening, dalam diam, dalam segala ketidakpastian, kucoba untuk bersabar.

Tentang Ibu, Memang Tak Pernah Ada Habisnya!





Ini memang bukan hari Ibu, tapi saat ini aku sedang memikirkan ibuku.
Manusia berubah, tapi tidak dengan ibuku…
Kira-kira alasannya apa ya?

Mungkin ini karena 9 bulan lamanya aku ‘menumpang’ di rahim ibu, makanya apa yg dirasakan ibu, aku ikut juga merasakannya. Apa yg dimakan ibu, aku juga turut mencicipinya. 

Waktu berganti, ibu sungguh-sungguh merawat dan membesarkan aku dengan segala kurang lebihnya,
Kepadaku, selalu nilai-nilai baik yang ia tanamkan, berharap bibit-bibit kebaikan itu kemudian hari akan berbuah kebaikan pula. 

Ibu hari ini menggugah kesadaranku…

Saat dunia tak mau menerimamu dengan tangan terbuka, tangan ibu yang berkerut dan renta itu selalu terkembang untuk memelukku kembali pulang

Saat teman tak lagi mau mendengarkan dengan telinga yang setia, telinga ibu yang sudah sepuh mendengar selaksa cerita dunia itu selalu setia tersendeng untuk mendengar tangis-tawaku.

Saat manusia menyematkan label-label dan mejatuhkan penghakiman-penghakiman terhadapku, atas baik dan burukku, ibu selalu menerima tanpa prasangka, tanpa penghakiman apa-apa. 

Saat aku gagal dalam satu-dua usahaku, mereka mencibir dan memandang rendah padaku, tetapi ibu akan selalu menabahkan hati dengan berkata “Tak apa, yang penting kau sudah berusaha, lain kali kita coba yang lebih baik ya.”


*Semoga lekas sembuh, Mak.

-Harapan yang tersurat di antara aroma kopi dan aroma tanah debu yang baru diguyur hujan malam ini-

"Cermin"



Cahaya keemasan datang perlahan 
Di antara celah-celah tirai berenda
Seorang wanita dengan kantung mata
Hitam, legam, didapat setelah lelah diam dalam kekosongan

Pertikaian sengit antara rasa dan logika
Pertikaian dengan hati sebagai medan perangnya
Siapa beroleh menang?
Tak ada.

Karena selalu saja pertikaian itu terhenti di satu titik: "kejenuhan".

Cahaya keemasan datang perlahan
Senja hari itu terasa lebih tak sopan
Menampar pipinya, kiri dan kanan
Panas terasa dalam rongga udara, rongga nafasnya
Disapukannya tangan ke sebuah cermin di sisi jendela
Sambil bertanya pelan, "Apa kabar, Ra?"



23.10.13

Kepada: Masa Lalu.





Masa laluku, masa lalumu…
Apa yang kita ketahui tentang masa lalu?
Ada yang datang menghampiri seperti seorang sahabat dekat,
Ada pula yang menyergap seperti bala tentara musuh yg siap membantai sekali sikat.
Masa lalu…
Ada haru, ada rindu, ada cinta, ada luka, ada manis, ada pahit, ada perih, ada elegi, ada romansa
Semuanya pernah terjadi di sana
Ingatan yang membawa kita pada petualangan luka penuh trauma,
Atau membawa kita pada perjalanan manis penuh tawa.

Masa lalu…
Dulu pernah ada kata rindu,
Dulu pernah ada tanya “apa kabar” dan segala sapa di dalamnya
Dulu pernah ada kata tanya “dimana”, “kapan”, “siapa”, dan “kenapa” di dalamnya
Dulu…
Di masa lalu

Masa lalu,
Bisakah kita kibarkan bendera putih hari ini?
Kita berdamai, berteman, mungkin tak bersahabat, cukup untuk saling mengerti bahwa kita tak lagi bisa terus seperti ini.
Berilah aku ruang dan waktu untuk bergerak maju pada kekinian dan masa depanku

Masa lalu,
Bisakah kita duduk diam dalam tenang sambil meneguk secangkir teh di beranda hatiku?
Kita bercengkrama, kita tertawa, bercerita tentang segala kejadian dan peristiwa yang mengaduk hati, menguras air mata bahkan membuat perut mulas karena tawa yang membahana.
Berilah aku maaf jika memang aku pernah membuat kesalahan pada relung waktumu

Masa lalu,
Aku tak pernah meniadakanmu, kau selalu terselip di antara mimpi dan bangunku,
Tapi kumohon, jangan tampakkan dirimu dalam rupa murka angkara,
Hadirlah sebagai putih-putih kelopak bunga yang beraroma vanilla,

Masa lalu,
Teman sekaligus musuh dalam satu waktu…
Mari, berdamailah denganku.

Salam hangat, 
Masa kini-mu.

Si Perasa itu Disebut "Wanita"



Rumuskan segala rasa dalam sebaris atau lebih formula demi formula,
Coretkan angka demi angka dengan tanda-tanda matematis di antaranya,
Namun tetap, kau takkan temu rasa di sana.
Apa yg kau dapat hanyalah sejumput rasa hambar, tak bernyawa, tak menghangatkan, karena kau bukan sedang meretas makna menjadi rasa, atau sebaliknya...
Kau hanya sedang "merumuskan" rasa, yg tentu tak mungkin ada ramuan pastinya.
Selamat mencoba.

***

Jika aku gagal membuat perhitungan pasti tentang isi hati,
Itu karena aku memang bukan ahli ilmu pasti.
Jika aku gagal membedah segala rongga paru-paru yg mengembuskan nafas cinta ke udara,
Itu karena aku memang bukan seorang ahli bedah yang ternama.
Jika aku gagal menghubungkan koneksi hati dengan media yang mengantarainya,
Itu karena aku memang bukan seorang teknisi.

Aku bukan siapa-siapa, kekasihku.
Aku ini cuma si perasa yang mungkin terlihat dungu,
Aku hanya mengerti bahasa yang dibahasakan hati lewat kata-kata dan aksara yang meretas menjadi makna

Aku bukan siapa-siapa, kekasihku.
Aku ini cuma si perasa yang mungkin awam terhadap segala kepastian,
Aku hanya sadar bahwa kita hanya terombang-ambing dalam raga yang fana,
hidup dalam ketiadaan dan ketidakpastian.
Aku hanya menikmati tiap detik untuk merasa, memaknai, dan memahami segala afeksi.

Aku bukan siapa-siapa,
Aku hanya seorang perasa.
Aku hanyalah seorang "Wanita" (?)

Aku: Titik dan Daun Kering





Sesungguhnya ya Tuhan, aku tak pernah meminta segala hal yang menyulitkan, menyakitkan, atau mencelakakan sekalipun terjadi pada diriku… itu yang terbaik MENURUTKU.

Egoku dalam setiap doa membuat rapalan doa menjadi hambar, tak lagi harum sesuai ingin-Mu, dan apa yang kumintakan bukan apa yang kubutuhkan, tetapi apa yang kuinginkan.
Aku bersembunyi dibalik topeng kepura-puraan. Berpura-pura dengan kesadaranku dalam memaknai kehidupan yang Kau beri dengan cuma-cuma ini.

Sesungguhnya ya Tuhan, aku mengetahui bahwa Kau tahu apa yang paling aku perlu, Kau mengijinkan segala kesulitan, kesusahan, kesakitan, atau apa yang kusebut bencana sekalipun terjadi atas diriku itu karena Kau mengerti betul bahwa semuanya itu akan membuatku menjadi lebih tahan uji, itu MENURUTMU.
...
Aku ini ibarat titik, ya Tuhan. Debu pun aku tak sampai. Hanya setitik renik yang terabaikan. Terlalu hina dan fana jika ku bandingkan diriku kepada alam semesta Maha Karya-Mu ini, ya Tuhan. 

Aku ini ibarat daun kering, ya Tuhan. Bunga pun aku tak sampai. Hanya sehelai daun yang jatuh dari pohon yang meranggas. Terlalu ringkih dan rapuh jika kusejajarkan diriku dengan jagad raya Karya-Mu ini, ya Tuhan.

Tapi Tuhan, titik pun aku, kiranya perkenankanlah aku berada dalam satu stanza, dimana aku bisa menempatkan diriku dengan apik dan baik di sana, menjadi bagian paling akhir dari sebuah syair indah hasil gubahan-Mu, Bapa. Kiranya aku menjadi titik yang berguna dan berdayaguna, tak tersia-sia dalam hingar bingar jagad raya. 

Tapi Tuhan, daun kering pun aku, kiranya Kau perkenankan aku terbawa angin hendak-Mu untuk kemudian jatuh dan mendarat di sebuah taman asri yang Kau tata sendiri, jatuh di antara bunga-bunga indah kepunyaan-Mu untuk kemudian aku membusuk dan menjadi pupuk. Memberi faedah bagi bunga-bunga indah kepunyaan-Mu, Bapa. Kiranya aku pun menjadi daun kering yang berguna dan berdayaguna, tak tersia-sia dalam karut marut semesta. 

Aku ini bukanlah sesiapa, Tuhan. Terlalu berani aku meminta kepada-Mu. 
Terlalu lancang aku memohon pada-Mu. 

Seketika aku mengingat sabda-Mu dalam barisan ayat-ayat Injil-Mu. 
Kau yang berkuasa dan berada dalam segala kedigdayaan-Mu menyebutku mulia dan serupa dengan-Mu, ya Tuhan.

Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau mengasihiku sedemikian rupa, menembus batas keIlahian-Mu untuk setara dengan manusia yang hina.
Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau menunjukkan bulat hati-Mu mengambilku dari jerat maut, salib itu Kau jadikan bagian-Mu.
Siapakah aku ini, Tuhan, hingga Kau senantiasa setia sepenuh hati-Mu di atas ketidaksetiaan dan pengkhianatanku pada-Mu.
Lalu aku? Apa yang sudah kuberi untukMu?
Tak ada.
Mestinya aku memberi segala cinta daya upaya karya dan karsa, tapi aku belum berbuat apa-apa.

Dalam kerendahan dan ketiadaanku, aku mengaku ya Tuhan. 
Bagian-Mu lah yang memenuhi kekosonganku agar kiranya kepenuhan-Mu menjadi bagianku. 

Berkenankah Kau, Tuhan?

Ya Tuhan, raga dan jiwa kiranya aku persembahkan sebagai bagian yang harus sepenuhnya menjadi kepunyaan Kerajaan-Mu di nirwana.

Tak bolehlah aku meminta-paksa, kupinjam dan kupakai tanpa maksud dan tujuan yang berguna di dunia, di tempat dimana aku Kau titipkan, sementara. 

Ya Tuhan, ijinkan aku meminjam raga ini sampai batas waktu yang Kau kehendaki.
Ajarilah aku untuk menggunakan dan merawatnya sedemikian baik, agar kelak ketika Kau memanggilku pulang, raga ini pun masih dalam keadaan yang Kau kehendaki.

Ya Tuhan, dalam kelemahan ragawi, kiranya jiwaku tetap hidup dan menjadi bagian yang paling indah yang bisa kupersembahkan untukMu kini dan nanti.

Tak ada alasan bagiku lagi untuk tak berucap “terima kasih, Tuhan”.
Atas segala susah dan senang…
Atas segala keberadaan dan ketiadaan…
Atas segala sehat dan sakit…
Atas segala tawa dan air mata…
Atas segala hidup dan nanti mati…
“Terima kasih, Tuhan.”


Eleg-"i"




Tasteless.

Kadang hanya menghidupi hidup seadanya...
Ambisi tentang segala macam pencapaianlah yang membawaku kemari.
Boleh kusebut begitu?

Atau, dengan navigasi dari semesta,
Setiba aku di sini, Dia sengaja membuatku demikian...
Ah, demikianlah.

Tak cukup puas aku bertanya dengan kata-kata dan bahasa,
Raga dan jiwaku kini turut mempertanyakan segalanya.
Apalah arti cinta?
Apalah arti nyawa?
Apalah artinya... segala teka teki yang seolah aku bangun sendiri, lalu sesat di dalamnya, lalu tersudut di salah satu labirin teka teki itu, lalu terdiam, hilang, hilang, dan hilang...

Mimpiku sederhana, tapi jalan menuju ke sana tak sesederhana mimpi itu sendiri.


Mimpi.
Ambisi.
Afeksi.

Apalah arti semua ini.