BAHASA



Cukupkanlah diri ini, agar tak lagi meminta hal yang tak mungkin kau berikan.
Segala numerik dan formula yang memadat-sesakkan isi kepala, mungkin tak akan menjelma menjadi diriku dalam imajimu,
Namun, aku tetaplah aku...
Seseorang yang kau kenal tanpa perlu membuat kalkulasi dan perhitungan dalam angka,
Karena aku hanya butuh bahasa dalam rupa kata sebagai rahim yang melahirkan makna.
Bahasa yang meluluhlantakkan segala tanda tanya,
dalam sekat-sekat perbedaan yang kadang mengerucut menjadi kemarahan,
Bahasa yang meniadakan segala keraguan,
dalam celah-celah ketidakpastian kehidupan.


12:15 AM
Wed, 6.11.14

Lampu jalan. Lampu taman.



Pic source: http://distilleryimage10.s3.amazonaws.com
Lampu taman, Lampu jalan
Lampu-lampu taman
Lampu-lampu jalan
Menyala ketika senja tiba
Menyala ketika malam mulai menyapa

Lampu jalan, lampu taman
Menjadi saksi-saksi dalam kebisuan
Tentang hari ini, tentang segala macam kisah kehidupan



Tentang pedagang rokok yang menjajakkan rokok batangan dengan harga ketengan
Berharap orang-orang mampir untuk menyulut api padasebatang-dua batang tembakau lintingan
Untuk sekedar menyisipkan pilu di tiap bakaran
Untuk sekedar menuangkan luka di tiap embusan
Untuk sekedar menumbuhkan perasaan nyaman
Untuk menjadi lega karena asap yang mengepul dalam rongga dada
Menyesakkan, namun entah mengapa tetap menyenangkan
Katanya...

Tentang pedagang asongan yang menawarkan aneka jajanan
Yang mulai menyiapkan keranjang berpenutup kain sebagaiwadah penyimpan
Barang dagangan yang hari ini tak juga kunjung terjual,karena langit berawan atau hujan atau macam-macam alasan
Menumpuk rapi bungkus-bungkus plastik bening dan berwarnamenarik dalam kemasan
Dengan rona yang kusam dan masam karena hanya mengantongirupiah senilai lima atau sepuluh-ribuan

Tentang wajah-wajah lelah orang kantoran
Yang kusut masai karena hari ini dikejar oleh deadline pekerjaan
Yang harinya semakin dikacaukan oleh kemarahan dan kemurkaanpejabat dan atasan
Menyudutkan, memojokkan jongos-jongosnya karena berbagaimacam kesalahan

Tentang langkah lunglai anak-anak sekolahan
Yang siang tadi masih sanggup dan bertenaga untuk berlarian
Lalu ketika senja datang menyapa mulai menyurutkan nyalasemangat mudanya
Karena sejuta tanya yang tiada pernah terjawab lebih dinitentang hari esok atau lusa
Atau karena padatnya jadwal ujian dan tugas-tugas harian
atau  mungkin karena cerita cinta masa muda yang katanya masih berupa roman picisan
Atau malah keduanya...

Tentang tangan-tangan hangat yang erat bergandengan
Sebagai satu atau dua pasangan yang melintas dan duduk dibangku taman
Berbicara tentang harapan dan bualan tentang masa depan
Di bola mata mereka terpancar bara api cinta yang sepertitak pernah terpadamkan
Sedang di sudut lain taman membuncahlah sebuah kemarahan
Terlontarkan ke udara lewat nyaringnya suara tangisanpenyesalan
Mencaci, menggerutu, cemberut, menghanyut dalam kemuraman
Karena sudah habislah segala cerita masa kini dan masa depanyang katanya akan melukiskan kebahagiaan
Berakhirlah di malam ini, di antara derit gerobak usang pemulungdan bunyi riuh jangkrik bersimfoni di udara
Ya, ternyata tak lagi ada cinta di sana
Katanya

Tentang kupu-kupu malam yang bersandar di tembok-tembok kota yang dingin
Tersapu oleh angin malam yang menusuk sampai ke persendian
Berharap satu atau dua pengendara singgah untuk sekedar bertegur-sapa atau bahkan meminta kenyamanan yang siap segera akan disajikan
Dalam balutan aroma dan geliat yang tak bisa dilukiskan
Karena kata-kata terlalu sederhana untuk mewakili rasa nyaman yang meluap-luap di setiap regukan kenikmatan

Tentang laron-laron yang sejenak kegirangan
Tak mau kalah dengan mereka-mereka yang larut dalam geliat malam
Menyambut datangnya temaram lampu-lampu jalan danlampu-lampu taman
Lincah beterbangan dan berhamburan karena binar lampu-lampu dinikmatinya dalam kekaguman
Untuk kemudian patahlah sayapnya dan kembali mendaratkandiri ke bumi
Menunggu datangnya petugas kebersihan yang mengayunkan sapulidinyakian kemari
Membersihkan puing-puing sayap dan tubuh laron ke dalampengki
Hingga sempurnalah warna dan wajah bersih kota di pagi hari

Lampu padam

Terang matahari datang menggantikan

Lampu padam

Deru dan gebu kota mulai meneriakkan segala kegalauan dankeriuhan
Bisingnya knalpot kendaraan, bus dan angkutan yang saling berkejaran
Kota dan manusia dalam denyut yang saling beriringan
Berbaur dan bercampur, menjadi satu sisi lain kehidupan

Ya, karena siang dan malam selalu datang bergantian

Demikianlah
Lampu-lampu taman padam.
Lampu-lampu jalan padam.
Nyala merah matahari datang menggantikan
Hari ini, kira-kira apa lagi gerangan…


*Singgahlah catatan ini dalam kepala ketika berjalanmenyusuri trotoar kampus menuju kosan. Diiringi alunanlembut “Streetlights”nya Josh Rouse yang mendayu dan merayu. Manis dan inspiratif. Memaksa sisi melankolis untuk keluar dan meretas menjadi sebuah catatan singkat. :)

Rabu berawan.
Tahun 2014,bulan pertama, hari kedelapan.
-Ra-


Seloyang pizza, Sejuta cerita





Seloyang pizza, Sejuta cerita



Mendung. Dan hari itu berhujan.


Cuaca mendung memang paling sering membuat perut, ah, mulut lebih tepatnya, jadi lebih berbahaya dan rakus dibanding pada hari dengan cuaca-cuaca cerah yang bertemperatur normal dan biasa.


Ya, hari itu aku benar-benar merasa ingin sekali makan Pizza. Pasti kalian bertanya-tanya, kalau memang ingin, kenapa tak segera dibeli saja? Atau mudahnya, sekarang ‘kan ada carcep (cara cepat) via delivery order, tinggal pencet tombol tilpun, lalu Pizza Boy pun akan datang mengantarkan ke tujuan.


Masalahnya adalah, meski ingin, namun apa daya Pizza Boy tak akan sanggup mengantarkan seloyang pizza ke perkampungan kecil macam ini. 


Begitulah, di kecamatan mini ini tak ada satu pun café atau resto yang sedia pizza enak seperti di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Miris. 


Hah! Lupakan… 


Ya, kualihkan hasrat terpendam dan rasa ngidam pizza itu kepada cemilan lain bernama ‘risoles’. 

Memang siiih, keduanya sama-sama berbahan dasar tepung, tapi agaknya risoles ini lebih melempem daripada pizza, bentuknya juga agak abstrak nan absurd begitu… tapi sudahlah, yang namanya lapar daun singkong dikasih mayonnaise juga rasanya udah kayak salad di lidah (terpaksa).


***

Tentang pizza dan kita


Waktu itu dia berkunjung ke kotaku, semasa aku liburan kami memutuskan untuk mengatur pertemuan yang keduaribuduaratusduapuluh kalinya… (lebay! Pertemuan waktu itu adalah pertemuan ketiga kalinya), ya, harap maklum, itulah sulitnya kalau menjalani LDR-LDR-an macam ini, serba susah untuk ketemuan. 

Doski sibuk cari makan, eike sibuk cari masalah. 
Jadi kalo keduanya digabungkan kami memang sedang sibuk ‘makan masalah’ atau sedang sibuk ‘mempermasalahkan makanan’? :p whatever…


Hari dimana kami memutuskan untuk ‘nge-mal’ ([n] mal;sekumpulan gedung berisikan macam-macam toko di dalamnya, [v] ngemal; ‘melakukan aktivitas berputar-putar di mal tanpa tujuan dan arah yang jelas dan pasti (apaasssiiiiihhh…)). 


Ya, kami memutuskan berjalan-jalan di mal sambil melakukan belanja-jendela (window shopping.red) ke sana kemari. Hari sebelumnya memang kami puas menjajal eksotika air terjun dengan telaga biru-beningnya di daerah pegunungan sana, jadi ya, tak masalah jika hari ini mengagendakan pelesiran singkat padat merayap di gedung bertingkat. 


Setelah penat, rasa dahaga muncul di pangkal tenggorok, pertanda kami harus menenggak satu atau dua gelas air atau sejenisnya untuk mengusir dahaga itu. 
Plus, perut pun sudah memulai aksi demo dengan membuat kegaduhan dan mulai dangdutan di sana sini. Oke, ini pertanda kami harus segera menemukan tempat untuk bertengger dan menyantap penganan dan minuman yang mengenyangkan dan menyegarkan. 


Setelah melihat-lihat, café, resto, warung, kios, kantin, foodcourt, rasanya kenapa tak ada ya yang menggugah selera?

Malas rasanya kalau harus makan yang itu-itu saja, maklum, menu umum yang tersaji di republik ini kebanyakan didominasi oleh nasi dan ayam-ayaman.

As we know, makanan pokok kita ‘kan memang nasi. Sedang kami, di perantauan, kami sudah jenuh dan bosan makan menu dengan formula 3T + 1A (tahu, tempe, telur & ayam).  

Lihat betapa kami bosannya?

Hampir semua yang berkaitan dengan ayam sudah kami makan. Telur (asal muasal ayam), lalu kemudian ayam itu sendiri pun kami makan, jika keduanya sudah dimakan, lalu apa lagi yang kurang selain sisanya hanyalah kandang.

Alternatif lain ada, “ikan”. Tapi sulit menemukan menu ‘ikan-ikanan’ di mal macam ini, takutnya sih ikannya kurang segar, ngga tahu harus mencari dimana, takut membuang waktu juga. 


Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Pizza Huh* (*no promotion here, plis…) yang ternyata dipenuhi bejubel manusia yang datang entah darimana (memang hari itu banyak sekali orang, tapi kenapa harus semuanya menumpuk makan di Pizza Huh ya???) 


Menu disodorkan. 


Waitress yang ramah dengan senyum cerah menawarkan beberapa menu yang katanya lagi program promo. (padahal sekarang ini yang lagi nge-trend kan program diet?)


“Ini menunya, Kak, Bang. Kita bulan ini lagi ada promo menu paket… dan Bla bla bla… (aku tak ingat lagi dia ngomong apa, dia bicara hampir sama cepatnya dengan kecepatan cahaya :p) 


Siplah. Kami membuat pilihan. 


Ya, seloyang pizza “American favorite” ukuran Medium yang dianggap lebih fresh dan cukup mengenyangkan ngga akan bikin perut eneg karena komposisinya lebih variatif dan potongannya ngga akan kurang ngga akan lebih. 
Ukuran M memang pas dibagi berdua (apalagi bagi kami yang waktu itu seperti singa kelaparan, pasti dikupas tuntas pizza seukuran itu). 


Oh iya, itulah sebabnya kenapa aku jarang sekali makan pizza kalau hanya sendirian. 
Sulit mengukur kadar kemampuan konsumsiku,  ukuran Small memang cukup, tapi aku tak terlalu suka makan yang ukuran mini begitu karena topping pizzanya cuma sedikit dan ketebalan rotinya hampir sama tebalnya dengan roti bantal kodian, tak terlalu enak. (Ini dia konsumen yang ngga mau rugi, terlalu itung-itungan)



Setelah menulis pesanan, kemudian dilanjutkan dengan sebuah penantian, karena orderan sudah dalam daftar, ya kesabaran harus diuji sejenak. Untunglah tak lama kemudian pesanan pun datang.


***

Santapan mini, Obrolan maxi


http://junkfoodnews.net/wordpress
Sambil membagi seloyang pizza dengan pisau (lebih mirip spatula sih, itu namanya apa ya??)  dan kemudian dia meletakkan sepotong irisan pizza berbentuk semi-segitiga sama kaki ke atas piringku. Lalu dia melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri, hihihi… (what a gentle..)


Kami pun mulai dengan ritual pertama: menuangkan saus dan sambal ke atas pizza. 

Sambil mengunyah, sambil mengiris, sambil menyeruput minuman segar, semua dilakukan dalam serangkaian aktivitas makan siang yang menyenangkan itu. 


Dia pun memulai pembicaraan, dan aku  tekun mendengarkan. 


Sambil mengunyah pelan-pelan, aku memaksimalkan fungsi tiga penginderaan sekaligus waktu itu: telinga yang baik untuk mendengarkan suaranya di antara kegaduhan dan riuh-rendah obrolan orang-orang di sekitar, lidah yang tajam untuk mengecap rasa nikmat dari setiap kunyahan pizza di dalam mulut, dan mata yang terus memperhatikan dia yang sedang berbicara di hadapanku (we gotta keep that eye-contact anyway


Aku senang. 


Barangkali ada benarnya ya, di meja makan setiap orang akan menjadi lebih terbuka dalam bercerita, mungkin karena pada saat makan kita akan menjadi lebih santai sambil menikmati tiap rasa nikmat yang dihadirkan oleh irisan demi irisan makanan. 


Dia berbicara banyak waktu itu. Tentang macam-macam hal seputar hidupnya. Tentang kesenangannya, kesulitannya, kekesalannya, kegelisahannya, dan banyak lagi.


Dan aku sedang dan senang mendengarkan.


Tak disangka, aku yang asyik melumat potongan pizza dalam mulut sudah menuangkan terlalu banyak saos di atas pizzaku.Tak bisa meng-undo tuangan saos itu, aku terpaksa melahap segalanya dengan penuh percaya diri. Dan...

Jelas bisa ditebak apa yang kemudian terjadi, kan? (*__*)

Ya, tak berapa lama berselang perutku yang ringkih ini mulai berontak. 
Kebanyakan diisi saos ya begini ini jadinya, mules. Hahaha… (Sumpah, waktu itu rasa maluku lebih besar daripada rasa mulesku, Bang. :p)


Ya, demikianlah. Singkat cerita, semuanya berakhir bahagia. (Sengaja tak mengekspos hal yang tak patut, hehehe)



***

Di antara rasa ingin makan pizza dan rasa rindu untuk makan bersamamu


Itu… barangkali memang baru dua-tiga bulan yang lalu, bukan? 


Entah, tapi rasanya tiap kali melihat pizza, rasa inginku muncul. Ngidam makan pizza, tapi aku juga tak ingin makan sendirian.

Aku ingin makan bersama, selain untuk menghindari ukuran pizza yang kekecilan (penting ngga sih?) tapi di atas semua itu, ingatan tentang kebersamaan denganmu waktu itu adalah sebuah kebahagiaan. 


Ya, kau telah berhasil mengingatkan betapa pizza itu lezat dan lebih lezat lagi kalau dimakan bersama-sama denganmu, begitu barangkali?


Yang jelas, kalau di kemudian hari kita menyantap pizza lagi, tolong ingatkan aku untuk tak dengan keranjingannya menuangkan saos di atas pizzaku ya? lambungku tak kuat menanggung beban seberat itu…  Haaiiyaaahh!


Begitulah.


Pizza dan kamu, memang sama-sama membuat rindu.  

Bedanya, pizza tak akan dinikmati jika dimakan sendirian  tanpa kehadiranmu, namun aku akan sangat menikmati keberadaanmu meski tanpa kehadiran pizza sekalipun.



-End-

Sabtu pertama di minggu pertama dan bulan pertama tahun baru, yang sudah kesekian kali dan kesekian kalinya kulewatkan tanpamu.

04.01.2014.


Menjemput jawaban di tahun depan





Oh, kurang dari 48 jam lagi semua manusia akan mengucapkan selamat tinggal pada tahun 2013

Semua manusia akan larut dalam gegap gempita meriahnya pesta perpisahan tahun lama dan penyambutan tahun baru

Selebrasi akan diadakan di sana sini, lengkap dengan segala hiburannya,
Musik, sajian yang serba sedap, obrolan yang seperti tak akan pernah berakhir, bunyi terompet yang memekakkan telinga, hitungan mundur 10 sampai 1, warna warni kembang api, dan tentu, ada banyak lagi model selebrasi

Apa yang dilakukan oleh aku dan keluarga sebagai tradisi, entah itu tradisi religi atau tradisi suku,
biasa disebut ‘censura morum’; 
yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin yang maknanya adalah “examination of conduct” atau “pemeriksaan perilaku”

Ya, ‘pemeriksaan perilaku’ 
Sebuah acara pengakuan, introspeksi dan perenungan diri dan keluarga, yang kemudian diakhiri dengan permintaan maaf dari masing-masing anggota keluarga tepat setelah jarum jam menunjuk angka dua belas lebih satu di tahun yang baru

Sayangnya, tahun ini aku tak akan terlibat di dalamnya. 
Jarak memaksaku untuk merenung sendiri di kejauhan ini
Tak masalah
Aku di sini akan punya banyak peluang untuk sekedar perenungan

Yah, barangkali tahun depan adalah tahun bagiku untuk menjemput beberapa jawaban atas beberapa pertanyaan kehidupan

Jawaban untuk sebuah akhir yang indah dari perjalanan yang menghabiskan waktu 365 hari dikali tiga
Jawaban untuk sebuah keingintahuan dari peristiwa yang sifatnya ragawi yang masih belum terpahami
Jawaban untuk sebuah penantian atas pengabdian dan pemberdayaan diri
dan jawaban atas begitu banyak tanya yang selalu berteriak di rongga dada dan kepala
berteriak menuntut jawaban dan kepastian, 
apa yang bisa kulakukan? Sedang aku pun adalah sebuah ketidakpastian.
Atas semua proses yang sudah dijalani dan pembelajaran yang sudah diterima, 
pantaslah kiranya aku menjemput jawaban-jawaban itu dengan tangan dan usahaku sendiri
Sekian lama sudah aku bersabar menunggu dan menunggu sampai menggagu, 
waktu tak pernah memberi jawaban, bahkan kini muncul lagi lebih banyak tanya

Ah, waktu.

Memang waktu tak kenal ampun.
Berkali-kali aku sudah jatuh dan terseret dalam gelombang keputusasaan, 
tapi tak sejenak pun ia berhenti dan memberi jeda untukku mengambil nafas dan kemudian bangkit lagi,

Tak akan pernah itu terjadi.

Maka Daud sang Pemazmur pernah menyuratkan:  “Ajarlah kami menghitung hari-hari sedemikian rupa agar kami beroleh hati yang bijaksana”

Ya, menghitung hari sedemikian rupa berarti juga siap menjalani hari dengan sebaik-baiknya sehingga tak semenit pun terlewatkan dengan sia-sia.

Tahun baru, Tahun berganti.
Resolusi?
Ah, basi.

Mungkin sudah kurang layak aku menyebut segala macam rencana dan obsesi dan ambisi dan misi di tahun depan sebagai sebuah resolusi.

Yang aku butuh saat ini adalah REVOLUSI dan REFORMASI. 
Memperbaiki diri untuk kemudian membentuknya kembali.

Perubahan dan penggubahan yang cepat dan mendasar yang perlu dilakukan untuk menata diri sendiri, 
Rasanya ini lebih berat dari hanya sekedar resolusi.
Ini mesti dilakukan untuk hidup yang lebih berdaya guna di kemudian hari nanti.


Oke, aku harus bersiap menuju tahun baru
Bergegas dengan segala kelengkapan daya dan upaya yang aku punya.

...
Jika waktu memang tak pernah menunggu, 
biarlah aku menjemput sendiri jawaban-jawaban itu.

30.12.2013
Penghujung tahun dengan hati yang harap-harap cemas.

Aku 'hanyalah' Ra.



Apa yang aku takutkan selama ini memang sudah kejadian
bodohnya lagi, kenapa aku tetap merasa sakit jika memang itu sudah kuperkirakan
Kenapa?
Mungkin karena rasa sakit itu munculnya hanya sesaat setelah rasa cinta

Balutan rasa yang selama ini manis adanya kian terbuka
menganga dan mulai menyeruakkan aroma
aroma yang memaksa aku dan kamu memilih untuk mengambil keputusan
meski berat, tapi katamu kita harus mencoba perjuangkan

Dalam segala perbedaan, kau selalu kuindahkan
dalam segala kekurangan, kau selalu kulebihkan
Dalam segala kerinduan, namamu selalu kudengungkan
dalam segala kesalahan, kau dan aku selalu saling mengingatkan

Tadi malam, mungkin adalah puncak dari segala puncak rasa
ibarat musim penghujan, Desember memang puncak curah hujan tertinggi, katanya
Barangkali juga demikian tentang kita, penghujung bulan di tahun penghujung ini
kita mulai saling melukai, menyakiti, dan akhirnya membuncahlah segala rasa
dalam segala rupa; gestur, tutur kata, aksara, dan bahasa

Kamu dan aku memang berbeda, kataku
yang menjadikan kita bersatu pada dasarnya hanyalah rasa cinta,
Hanya itu modal kita, kataku
Tapi tampaknya tak pantas lagi kini aku menggerutu tentang persamaan dan perbedaan

Keadaan ini salah
tapi kita tak punya kesempatan untuk memperjelas situasi dalam tatap muka
mata ke mata, hati ke hati
Pertemuan, tahun ini adalah sebuah kenisbian

Itu sebabnya, barangkali?
Aku perlahan-lahan di sini, dalam jarak ribuan kilo ini,
terpuruk dan terjajah oleh sepi
Kesunyian bukan apa-apa bagi hatiku, tapi ini beda lagi.
Ini adalah kesepian. Yang teramat sangat. Kesepian.

Apakah itu yang membuatku-katamu-semakin berubah
menjadi terlalu menjadi-jadi
menjadi bukan diriku lagi
lalu, jika begitu, siapa aku ini?

Semalaman aku menginterogasi diriku sendiri
bertanya-jawab tanpa lelah
sampai akhirnya aku menarik sebuh simpulan:
"Ya, akulah Ra. Perempuan yang sulit dimengerti itu."

Tentangku,
Jika aku sudah menemukan banyak di dalam yang sedikit itu,
maka aku tak akan meminta lebih.

Tentangku,
Sedikit saja yang mau mengertiku apa adanya,
dan di antara yang sedikit itu hanya akan ada lebih sedikit lagi yang mau menerimaku,
apa adanya.

Kekasih, di bagian mana gerangan kau berada?
Di antara yang sedikit saja, atau di antara yang lebih sedikit lagi itu?





Selamat pagi, dunia.
Berteman baiklah denganku hari ini.
21.12.2013

Ah! Maaf, aku mau muntah!



Been a year since I did my 1st step, God.
Kuakui proses ini sangat amat tidak menyenangkan; digembleng, dicobai, diuji, diabaikan, dinomor-sekiankan, didiamkan.

Kuakui, aku sudah mulai merasa lelah; dalam segala ketidakpastian aku harus belajar menunggu dgn sabar, belajar menyalakan api semangat agar tak pernah padam, belajar mengoreksi karakter diri sendiri, belajar utk terus berjuang dan berusaha, belajar untuk melebur dgn gelombang2 manusia sekitar.

Tapi agaknya, rasa takut itu mulai membebani. Pikiran mulai terbagi sekian. Bicara ttg pencapaian-pencapaian.

Aku mulai capek... Maaf jika aku masih terlalu dangkal utk menyelami kolam sedalam ini. Maaf jika aku masih terlalu bodoh utk berusaha menjadi sepintar itu.

Tapi, Tuhan mengajarkan aku utk tidak menyerah. Satu hal yg kuyakini;
"Dia yg mengantarkanku sampai sejauh ini, Dia pula lah yg akan memampukan aku utk mengakhiri dengan indah, pada waktu-Nya."

Dalam hening, dalam diam, dalam segala ketidakpastian, kucoba untuk bersabar.

Tentang Ibu, Memang Tak Pernah Ada Habisnya!





Ini memang bukan hari Ibu, tapi saat ini aku sedang memikirkan ibuku.
Manusia berubah, tapi tidak dengan ibuku…
Kira-kira alasannya apa ya?

Mungkin ini karena 9 bulan lamanya aku ‘menumpang’ di rahim ibu, makanya apa yg dirasakan ibu, aku ikut juga merasakannya. Apa yg dimakan ibu, aku juga turut mencicipinya. 

Waktu berganti, ibu sungguh-sungguh merawat dan membesarkan aku dengan segala kurang lebihnya,
Kepadaku, selalu nilai-nilai baik yang ia tanamkan, berharap bibit-bibit kebaikan itu kemudian hari akan berbuah kebaikan pula. 

Ibu hari ini menggugah kesadaranku…

Saat dunia tak mau menerimamu dengan tangan terbuka, tangan ibu yang berkerut dan renta itu selalu terkembang untuk memelukku kembali pulang

Saat teman tak lagi mau mendengarkan dengan telinga yang setia, telinga ibu yang sudah sepuh mendengar selaksa cerita dunia itu selalu setia tersendeng untuk mendengar tangis-tawaku.

Saat manusia menyematkan label-label dan mejatuhkan penghakiman-penghakiman terhadapku, atas baik dan burukku, ibu selalu menerima tanpa prasangka, tanpa penghakiman apa-apa. 

Saat aku gagal dalam satu-dua usahaku, mereka mencibir dan memandang rendah padaku, tetapi ibu akan selalu menabahkan hati dengan berkata “Tak apa, yang penting kau sudah berusaha, lain kali kita coba yang lebih baik ya.”


*Semoga lekas sembuh, Mak.

-Harapan yang tersurat di antara aroma kopi dan aroma tanah debu yang baru diguyur hujan malam ini-